7 Cara Membantu Anak Mengelola Emosi agar Lebih Mudah Menyerap Pelajaran

Syafaria Hadyandari
6 Min Read
Dukungan emosional membantu anak kembali menggunakan keterampilan yang dibutuhkan untuk belajar
Dukungan emosional membantu anak kembali menggunakan keterampilan yang dibutuhkan untuk belajar

HALLOBUNDA.CO“Padahal tadi sudah bisa, kenapa sekarang jadi tidak mau mengerjakan?” Situasi seperti ini sering membuat orang tua bingung. Anak mungkin menangis karena jawabannya salah, marah ketika diminta mengulang, atau tiba-tiba berkata, “Aku enggak bisa!”

Respons tersebut tidak selalu berarti anak malas belajar. Emosi dan kemampuan belajar saling berkaitan. Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa fungsi eksekutif dan self-regulation membantu anak memusatkan perhatian, mengingat informasi, mengendalikan respons, dan menyesuaikan diri dengan tuntutan. Keterampilan ini berkembang bertahap dan membutuhkan latihan serta dukungan.

Baca Juga  Saat Emosi Menguasai Pikiran: 7 Cara Membantu Anak Lebih Siap Belajar

Kajian perkembangan emosional dari lembaga yang sama juga menjelaskan bahwa sistem regulasi emosi berinteraksi dengan fungsi eksekutif. Ketika emosi terkelola, fungsi ini dapat mendukung perhatian dan pengambilan keputusan; ketika anak sangat kewalahan, perhatian dan keputusan dapat menjadi lebih sulit.

Tanda Anak Belum Siap Menerima Tuntutan Belajar

Sebelum menambah latihan, perhatikan keadaan anak. Ia mungkin sedang membutuhkan jeda bila mulai menangis karena kesalahan kecil, melempar alat tulis, mengulang “tidak bisa”, sulit mendengar instruksi yang biasanya dipahami, terus meninggalkan tempat belajar, atau terlihat sangat tegang.

Tujuannya bukan menunggu anak selalu bahagia. Anak tetap dapat belajar ketika sedih atau kecewa. Yang perlu dinilai adalah apakah intensitas emosinya membuat ia kesulitan menggunakan kemampuan yang sebenarnya sudah dimiliki.

Baca Juga  Siap Masuk Sekolah Bukan Cuma Bisa Baca: 7 Tanda Kesiapan Anak yang Perlu Dilatih

Gunakan Pola Connect – Regulate – Return

Daripada langsung berkata “ayo fokus”, coba tiga tahap: connect atau membangun rasa terhubung; regulate atau membantu anak mengatur emosi dan tubuh; kemudian return, yaitu kembali ke tugas dalam porsi yang lebih mudah. Berikut cara menerapkannya.

1. Akui Emosi Tanpa Menghapus Batas

Bunda dapat mengatakan, “Kamu kesal karena soalnya sulit. Bunda dengar.” Mengakui emosi tidak berarti membiarkan semua perilaku. Jika anak melempar benda, batas tetap jelas: “Kesal boleh, melempar pensil tidak. Kita taruh pensilnya dulu.”

2. Kurangi Instruksi Saat Anak Sedang Kewalahan

Ketika emosi sedang tinggi, penjelasan panjang justru dapat menambah beban. Gunakan kalimat singkat dan satu langkah pada satu waktu: duduk dulu, minum, lalu pilih apakah ingin mencoba lagi atau mengambil jeda singkat.

Baca Juga  Dapat Diketahui Sejak Bayi! Begini 8 Ciri si Kecil Miliki Kepribadian Introvert

3. Bantu Anak Menamai Apa yang Terjadi

Anak yang mulai mengenali “aku kecewa”, “aku takut salah”, atau “aku capek” memiliki bahasa untuk menyampaikan kebutuhan. Bunda bisa menawarkan pilihan kata tanpa memaksa: “Kamu lebih kesal, khawatir, atau lelah?”

4. Beri Jeda yang Benar-Benar Menenangkan

Jeda bukan hukuman. Pilih aktivitas sederhana seperti minum, menarik napas perlahan, meregangkan tubuh, berjalan sebentar, atau duduk dekat orang tua. Untuk sebagian anak, aktivitas fisik ringan membantu tubuh terasa lebih teratur.

Share this Article
Reading: 7 Cara Membantu Anak Mengelola Emosi agar Lebih Mudah Menyerap Pelajaran