HALLOBUNDA.CO – Baru lima menit membuka buku, anak sudah melihat ke jendela, mengambil mainan, bertanya soal camilan, lalu berpindah ke hal lain. Situasi seperti ini mudah membuat orang tua menyimpulkan bahwa anak “tidak bisa fokus”. Padahal, fokus merupakan keterampilan yang berkembang bertahap dan sangat dipengaruhi oleh tuntutan tugas, kondisi tubuh, emosi, serta lingkungan.
Di rumah, tujuan utamanya bukan membuat anak belajar selama mungkin. Menurut CDC, yang lebih penting adalah membantu anak memahami apa yang perlu dikerjakan, bertahan pada satu target dalam durasi yang realistis, lalu kembali ke tugas setelah jeda.
Mengapa Anak Lebih Mudah Terdistraksi di Rumah?
Rumah memiliki banyak pemicu perhatian: televisi, notifikasi perangkat, suara anggota keluarga, mainan, makanan, bahkan keinginan untuk mengobrol. Pada saat yang sama, kemampuan fungsi eksekutif anak – termasuk mengarahkan perhatian, mengingat instruksi, dan mengendalikan impuls – masih berkembang. Karena itu, strategi yang efektif biasanya bukan sekadar berkata “ayo fokus”, melainkan mengubah tugas dan lingkungan agar fokus lebih mungkin terjadi.
7 Cara Membantu Anak Fokus Belajar di Rumah
1. Mulai dari Satu Target yang Sangat Jelas
Ganti instruksi luas seperti “ayo belajar” menjadi target konkret, misalnya menyelesaikan lima soal atau membaca dua halaman. Target kecil membantu anak mengetahui kapan tugas dimulai dan kapan ia selesai.
2. Singkirkan Distraksi yang Bisa Diprediksi
Tidak perlu membuat ruang belajar steril. Cukup pindahkan mainan yang paling menarik, matikan televisi, dan jauhkan perangkat yang tidak dipakai untuk belajar. Semakin sedikit keputusan yang harus ditolak anak, semakin banyak energi perhatian yang tersisa untuk tugas.
3. Sesuaikan Durasi dengan Kemampuan Anak
Daripada menetapkan sesi panjang sejak awal, amati berapa lama anak masih dapat bekerja dengan kualitas yang cukup baik. Gunakan durasi itu sebagai titik awal, lalu tingkatkan perlahan ketika anak mulai lebih stabil.
4. Beri Jeda yang Benar-Benar Mengubah Aktivitas
Jeda dapat berupa minum, peregangan, berjalan sebentar, atau melihat ke luar ruangan. Hindari jeda yang terlalu menarik sampai anak sulit kembali, misalnya membuka gim atau video pendek di tengah sesi belajar.

Subscribe to my channel