HALLOBUNDA.CO – Tren parenting bergerak cepat. Ada istilah baru di media sosial, aturan screen time yang terus diperbarui, diskusi tentang mental load, sampai kekhawatiran soal privasi anak. Di tengah semua itu, satu arah terasa semakin kuat pada 2026: keluarga tidak membutuhkan lebih banyak standar untuk terlihat sempurna. Mereka membutuhkan sistem pengasuhan yang realistis, bisa dijalankan, dan menjaga hubungan tetap hangat.
Riset Pew Research Center pada working parents di Amerika Serikat menunjukkan betapa kaburnya batas kerja dan keluarga: 70% responden mengurus tugas parenting saat bekerja, 59% mengerjakan urusan kerja ketika bersama anak, dan 54% merasa sulit menyeimbangkan keduanya. Angka ini bukan gambaran langsung keluarga Indonesia, tetapi memperlihatkan tekanan yang juga akrab bagi banyak orang tua modern: perhatian terbagi dan energi terbatas.
Di Indonesia, pemerintah pada 2026 juga mendorong Gerakan Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga (#SatuJamKu) sebagai penguatan peran keluarga di era digital. Jadi, trend parenting 2026 bukan sekadar label baru. Arah besarnya adalah kembali menata koneksi, pembagian peran, kebiasaan digital, dan ruang anak untuk bertumbuh.
1. “Good Enough Parenting” Menggeser Tekanan untuk Sempurna
Semakin banyak orang tua menyadari bahwa rumah tidak harus selalu rapi, bekal tidak harus selalu estetik, dan respons orang tua tidak mungkin selalu ideal. Pendekatan yang lebih realistis membedakan hal yang harus konsisten—keamanan, rasa hormat, batas utama—dengan hal yang boleh fleksibel.
Bunda dapat memilih tiga prioritas keluarga untuk dijaga, misalnya waktu tidur, cara berbicara saat marah, dan makan tanpa gawai. Hal lain boleh menyesuaikan kondisi. Fleksibilitas bukan berarti tanpa aturan; justru membantu keluarga menyimpan energi untuk hal yang paling penting.
2. Quality Time Menjadi Lebih Kecil, tetapi Lebih Sengaja
Quality time tidak harus berupa liburan atau aktivitas mahal. Tren yang lebih realistis adalah micro-connection: sepuluh menit mengobrol tanpa ponsel, memasak bersama, membaca sebelum tidur, atau berjalan sebentar setelah makan.
Gerakan #SatuJamKu menekankan waktu berkualitas bersama keluarga di tengah tantangan era digital. Bagi keluarga sibuk, prinsipnya dapat diterapkan secara fleksibel: pilih satu periode yang benar-benar hadir, bukan sekadar berada di ruangan yang sama sambil masing-masing menatap layar.
3. Digital Parenting Bergeser dari “Berapa Jam?” ke “Bagaimana Dipakai?”
Pertanyaan screen time tidak hilang, tetapi diskusinya semakin luas. American Academy of Pediatrics melalui panduan Family Media Plan menekankan aturan yang sesuai rutinitas dan nilai keluarga, screen-free zones, mematikan autoplay dan notifikasi, memilih konten berkualitas, serta memberi ruang untuk membaca, bermain, hobi, dan interaksi sosial.
Di Indonesia, PP TUNAS juga memperkuat perhatian pada perlindungan anak di ruang digital. Artinya, orang tua perlu membicarakan konten, privasi, iklan, orang asing, dan kebiasaan digital—bukan hanya memasang timer.
4. Co-parenting dan Mental Load Mulai Dibicarakan Lebih Terbuka
Pengasuhan bukan hanya siapa yang memandikan atau mengantar sekolah. Ada pekerjaan tak terlihat: mengingat jadwal imunisasi, ukuran sepatu, tugas sekolah, stok makanan, acara kelas, sampai kebutuhan emosional anak.
Data Pew 2026 pada pasangan berbeda jenis kelamin yang sama-sama bekerja penuh waktu menunjukkan 52% responden mengatakan ibu melakukan lebih banyak tugas parenting sehari-hari, sementara 39% menyebut pembagiannya kurang lebih setara. Kemenko PMK juga menekankan kemitraan ayah dan ibu atau co-parenting dalam pengasuhan.
Coba buat daftar tugas “terlihat” dan “tak terlihat”, lalu bagi kepemilikan tugas secara utuh. Bukan hanya “membantu”, tetapi tahu, merencanakan, dan menuntaskan.