Anak Mudah Frustrasi Saat Belajar? 7 Cara Mengelola Emosi agar Lebih Siap Mencoba

Syafaria Hadyandari
7 Min Read
Ibu mendampingi anak yang kesal saat menyusun puzzle di rumah
Ibu mendampingi anak yang kesal saat menyusun puzzle di rumah

HALLOBUNDA.CO – “Aku nggak bisa!” Kalimat ini mungkin muncul saat si Kecil kesulitan menyusun puzzle, menulis huruf, atau mengerjakan tugas sekolah. Kadang pensil dilempar, buku ditutup, lalu anak menolak melanjutkan. Bunda mungkin tergoda untuk segera meminta anak fokus. Padahal, sebelum bisa berkonsentrasi kembali, anak sering membutuhkan bantuan menghadapi perasaannya.

Emosi dan kemampuan belajar saling berkaitan. Ketika anak merasa terancam, malu, atau kewalahan, perhatian lebih mudah tersita oleh rasa tidak nyaman. Sebaliknya, suasana yang mendukung memberi ruang untuk mencoba, membuat kesalahan, dan mencari strategi baru. Tujuannya bukan membuat anak selalu tenang, melainkan membantunya pulih ketika kesulitan muncul.

Baca Juga  Muncul Potensi Sibling Rivalry dari si Calon Kakak, Ini 5 Tips Ampuh Mengatasinya!

Mengapa emosi bisa mengganggu fokus anak?

Belajar melibatkan kemampuan mengingat instruksi, mengendalikan dorongan, dan mengalihkan strategi saat cara pertama tidak berhasil. Keterampilan ini berkaitan dengan fungsi eksekutif yang berkembang bertahap sejak kecil. Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa fungsi eksekutif dan pengaturan diri dibentuk melalui pengalaman serta interaksi yang mendukung, bukan muncul otomatis begitu anak bertambah usia.

Saat tugas terlalu sulit, anak bisa merasa gagal sebelum memahami langkah berikutnya. Kurang tidur, lapar, kebisingan, atau tuntutan yang tidak sesuai tahap perkembangan juga dapat memperberat reaksi. Karena itu, perilaku “tidak mau belajar” perlu dibaca bersama situasinya, bukan langsung diberi label keras kepala.

Baca Juga  Emosi Anak dan Kemampuan Belajar: Mengapa Perasaan Aman Membantu Anak Fokus?

7 cara membantu anak mengelola emosi saat belajar

1. Akui perasaan sebelum memberi solusi

Coba katakan, “Kamu kesal karena baloknya terus jatuh, ya.” Kalimat singkat membantu anak merasa dipahami. Tidak perlu menyetujui tindakan melempar barang; tetap tetapkan batas dengan tenang.

2. Beri jeda ketika emosi memuncak

Jika anak menangis atau berteriak, hentikan tuntutan sesaat. Ajak minum, menarik napas perlahan, atau duduk bersama. Jeda bukan hadiah karena menolak tugas, tetapi kesempatan menenangkan tubuh sebelum mencoba lagi.

3. Pecah tugas menjadi langkah kecil

Daripada meminta anak menyelesaikan satu halaman sekaligus, mulai dari satu soal atau dua keping puzzle. Tunjukkan langkah pertama, lalu biarkan anak mengambil alih. Keberhasilan kecil membuat tantangan terasa lebih mungkin dihadapi.

Baca Juga  10 Menit Ngobrol Berkualitas: 7 Cara Membuat Anak Lebih Aktif Berkomunikasi

4. Berikan pilihan yang terbatas

Anak dapat memilih pensil warna, tempat duduk, atau urutan dua aktivitas. Misalnya, “Mau membaca dulu atau menggambar huruf dulu?” Pilihan sederhana memberi rasa kendali tanpa menghilangkan tujuan belajar.

Share this Article
Reading: Anak Mudah Frustrasi Saat Belajar? 7 Cara Mengelola Emosi agar Lebih Siap Mencoba