7 Hal yang Perlu Bunda Amati ketika Anak Paham tetapi Belum Banyak Bicara
1. Apakah kata baru terus bertambah?
Jangan hanya menghitung berapa kata yang dimiliki hari ini. Amati trennya. Apakah dalam beberapa minggu atau bulan muncul kata, bunyi bermakna, atau bentuk komunikasi baru? Perkembangan yang bergerak maju memberi informasi berbeda dibanding kemampuan yang stagnan atau justru berkurang.
2. Bagaimana anak menyampaikan keinginan?
Anak yang belum banyak bicara mungkin menggunakan tatapan, menunjuk, membawa benda, menarik tangan orang tua, gestur, atau bunyi untuk menyampaikan maksud. Responslah terhadap usaha komunikasi tersebut sambil memberi model kata sederhana. Misalnya ketika anak menunjuk air, Bunda dapat mengatakan, “Mau air? Air, ya.” Tujuannya bukan menahan kebutuhannya sampai ia bicara, melainkan memasangkan maksud yang sudah ada dengan bahasa.
3. Apakah anak meniru bunyi, kata, atau gerakan?
Kemampuan meniru dapat menjadi jembatan menuju komunikasi yang lebih kompleks. Mulailah dari hal yang menarik bagi anak: suara kendaraan, bunyi hewan, gerakan lagu, atau kata yang sering muncul dalam permainan. Tidak perlu memaksa anak mengulang kata berkali-kali. Berikan contoh, tunggu, lalu lanjutkan interaksi meski responsnya belum sempurna.
4. Apakah pemahamannya konsisten dalam berbagai situasi?
Kadang anak terlihat “paham instruksi” karena mengenali rutinitas, gestur orang tua, atau konteks, bukan seluruh kata dalam kalimat. Coba amati secara alami apakah ia juga memahami nama benda, pertanyaan sederhana, konsep lokasi, atau instruksi yang sedikit berbeda dari rutinitas. Hindari menguji terus-menerus; observasi saat bermain dan menjalani aktivitas harian biasanya lebih representatif.