
5. Bagaimana respons anak terhadap suara dan panggilan?
Pendengaran berperan penting dalam perkembangan bicara dan bahasa. NIDCD menyebut keterlambatan bicara atau bahasa kadang berkaitan dengan gangguan pendengaran. Anak dapat tampak memahami sebagian situasi tetapi tetap mengalami kesulitan mendengar bunyi tertentu atau pada kondisi tertentu. Bila respons terhadap suara tidak konsisten atau ada kekhawatiran pendengaran, sampaikan kepada dokter dan tanyakan apakah pemeriksaan audiologi diperlukan.
6. Apakah anak menikmati komunikasi dua arah?
Perhatikan apakah anak mencari perhatian orang lain, menunjukkan sesuatu yang menarik, bergantian dalam permainan, berbagi ekspresi, atau mencoba mempertahankan interaksi. Komunikasi bukan hanya produksi kata. Gestur, perhatian bersama, permainan simbolik, dan pertukaran sosial memberi konteks penting ketika profesional menilai perkembangan bahasa.
7. Apakah ada kemampuan yang hilang?
Kehilangan kata, gestur, respons sosial, atau kemampuan komunikasi yang sebelumnya sudah dikuasai perlu mendapat perhatian segera. CDC menyarankan orang tua bertindak lebih awal apabila anak tidak mencapai satu atau lebih milestone, kehilangan keterampilan yang pernah dimiliki, atau orang tua memiliki kekhawatiran lain.
Cara Menstimulasi Anak Tanpa Membuatnya Merasa Diuji
Stimulasi terbaik untuk situasi ini bukan sesi tanya jawab panjang, melainkan bahasa yang hadir dalam aktivitas yang memang ingin dilakukan anak. Ikuti fokus perhatiannya, gunakan kalimat pendek, beri jeda, dan perluas komunikasi yang sudah muncul.
- Narasi singkat: saat anak mendorong mobil, katakan “mobil jalan”, “mobil cepat”, atau “mobil berhenti”.
- Berikan pilihan: “Mau pisang atau roti?” lalu tunggu respons berupa kata, bunyi, tatapan, atau menunjuk.
- Perluas satu tingkat: jika anak berkata “bola”, jawab “bola merah” atau “bola jatuh”, bukan meminta kalimat panjang.
- Gunakan buku interaktif: tunjuk gambar, beri komentar, lalu sisakan jeda agar anak ikut berkomunikasi.
- Respons semua usaha komunikasi: ASHA menyarankan memberi perhatian dan merespons upaya anak untuk berkomunikasi, bukan sering memotong untuk mengoreksi.
Yang penting, jangan menjadikan setiap kebutuhan sebagai “tes bicara”. Anak tetap perlu merasa bahwa komunikasinya berhasil. Model kata dapat diberikan setelah Bunda memahami maksudnya, sehingga berbicara terasa sebagai bagian dari hubungan, bukan syarat untuk mendapatkan bantuan.