Cara Melatih Anak Mengekspresikan Perasaannya dengan Aman
1. Ajarkan Anak Menamai Emosi
Gunakan kalimat seperti:
“Kamu marah karena tadi tidak diajak main, ya?”
“Kamu kecewa karena mainannya rusak, ya?”
Bantu mereka mengenali perasaan dan penyebabnya.
2. Gunakan Media Ekspresi Positif
Bunda bisa sediakan:
-
Buku gambar untuk melukis perasaan
-
Boneka tangan untuk bermain peran
-
Kotak “kata hati” tempat anak bisa menulis atau menggambar saat kesal
3. Ajarkan Kalimat Pengganti Perilaku Kasar
Contoh:
“Aku benci kamu!” → “Aku nggak suka saat kamu ambil mainanku.”
Lempar barang → “Aku kesal. Aku butuh waktu sendiri dulu.”
4. Kenalkan Teknik Menenangkan Diri
Ajarkan napas panjang, memeluk bantal, atau duduk diam sambil mendengarkan lagu. Buat ini jadi rutinitas ketika emosi tinggi.
5. Berlatih Lewat Bermain Peran
Contoh:
“Mari pura-puranya kamu sedang kecewa karena hujan, terus kasih tahu Mama gimana perasaanmu.”
6. Validasi Emosi, Bukan Perilaku
Bunda bisa katakan:
“Mama tahu kamu marah, itu nggak apa-apa. Tapi marahnya jangan dilempar, ya.”
Dengan begitu, anak belajar bahwa perasaannya boleh, tapi harus disalurkan dengan cara yang aman.
Kalimat Afirmasi Positif untuk Anak
- “Semua perasaanmu penting.”
- “Mama bangga kamu bisa bilang apa yang kamu rasakan.”
- “Kamu boleh marah, tapi Mama akan bantu kamu tenang dulu.”
- “Perasaan sedih itu wajar, Mama di sini kalau kamu mau cerita.”
Bunda, anak tidak otomatis tahu cara menyampaikan perasaan. Tapi dengan bimbingan yang sabar dan penuh empati, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang mampu menghadapi emosinya, bukan melawannya.
Yuk, bantu anak mengekspresikan diri bukan dengan teriakan atau tangisan, tapi lewat kata dan tindakan yang sehat.
Karena anak yang mampu bicara tentang perasaannya hari ini, akan jadi orang dewasa yang kuat jiwanya kelak.***