
5. Membaca buku secara interaktif
Jangan hanya mengejar selesai membaca teks. Tunjuk gambar, beri nama benda, buat suara karakter, lalu tunggu respons anak. Bunda bisa bertanya, “Mana kucing?” atau berkomentar, “Wah, keretanya panjang.” NIDCD mencatat bahwa pada rentang 1–2 tahun, anak mulai menikmati cerita sederhana dan menunjuk gambar ketika namanya disebut.
6. Gunakan lagu, bunyi, dan permainan berulang
Lagu sederhana, suara hewan, permainan cilukba, atau suara kendaraan membuat bahasa terasa menyenangkan. Pengulangan memberi kesempatan anak memprediksi apa yang akan muncul berikutnya dan mencoba berpartisipasi.
7. Beri jeda sebelum membantu
Setelah bertanya atau menawarkan sesuatu, tunggu beberapa detik. Anak membutuhkan waktu untuk memproses bahasa dan menyusun respons. Jangan terburu-buru mengisi setiap keheningan. Tatapan, menunjuk, gestur, atau satu suku kata pun dapat menjadi bagian dari percakapan yang kemudian Bunda respons.
Yang Sebaiknya Tidak Menjadi Fokus Utama
Menambah kosakata bukan berarti anak harus terus diminta, “Coba bilang ini.” Hindari mengubah percakapan menjadi tes sepanjang hari. Koreksi pengucapan juga tidak perlu dilakukan pada setiap kata. ASHA menyarankan orang tua tidak terus menyela untuk mengoreksi bunyi; orang tua dapat memberi model pengucapan yang benar melalui respons alami.
Begitu pula dengan layar. Video dapat memperkenalkan suara atau gambar, tetapi percakapan langsung memberi sesuatu yang tidak dapat diberikan tayangan pasif: respons yang menyesuaikan dengan perhatian, gestur, dan ucapan anak. Jadikan waktu bermain, membaca, makan, dan perjalanan sebagai ruang komunikasi dua arah.