Ternyata, Google masih ingin menerima Stanley dan melakukan proses wawancara.
“Stanley beruntung karena apa yang dia lakukan menarik perhatian Amazon AWS. Dan hal itu memberinya pekerjaan di Google,” kata Han.
3. Tumbuhkan Motivasi Diri
Strategi yang dilakukan Nan selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh pakar pola asuh toksik, Jennifer Breheny Wallace.
Dirinya menyebut bahwa anak-anak yang kemungkinan besar akan berhasil ketika dewasa adalah mereka yang dibesarkan menjadi seorang pejuang yang sehat.
Orang yang berusaha keras memiliki motivasi diri untuk sukses dan tidak percaya bahwa pencapaian mereka menentukan nilai mereka sebagai manusia.
Bunda bisa memupuk sifat-sifat tersebut dengan membantu anak merasa bahwa mereka dihargai berdasarkan jati diri mereka, bukan karena nilai atau penghargaan yang mereka menangkan.
Dengan kata lain, anak-anak perlu tahu bahwa mereka penting.
“Dengan mendukung anak saat mereka mengalami kesulitan, anda meyakinkan mereka bahwa mereka dapat bangkit kembali dari kekalahan,” kata Wallace.
Saat Stanley ditolak oleh banyak sekolah, Nan mulai menganjurkan lebih banyak transparansi dari universitas dalam keputusan penerimaan mereka.
“Kami hanya berkata, ‘hai, tolong beritahu kami lebih banyak. Apa yang salah? Apa yang bisa kami lakukan agar menjadi lebih baik?’. Karena saat itu, menurut saya, hal yang paling membuat frustrasi adalah orang tua merasa gagal dan anak-anak merasa tidak tahu apa-apa,” tutup Nan.***