1. Pneumonia
Pneumonia membunuh lebih banyak anak daripada penyakit menular lainnya, secara global hampir satu juta balita meninggal.
Penyakit ini bisa saja dicegah, namun sangat berbahaya setiap harinya bisa saja 2.500 anak meninggal.
Angka tersebut lebih banyak dari gabungan jumlah kematian akibat diare, malaria, dan HIV untuk kelompk usia anak.
Namun hingga saat ini belum ada sama sekali adanya kampanye global untuk segera mengakhiri pneumonia.
Penyakit ini termasuk minim gejala dan gejala serupa penyakit lainnya sehingga sulit untuk diamati.
Biasanya dokter melakukan pengecekan organ paru anak untuk menemukan penyakit pneumonia ini.
2. TBC (Tubercolosis)
Tuberkolosis merupakan infeksi kronis berkelanjutan yang bisa disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.
TBC tak hanya akan menginfeksi paru-par, tetapi juga bisa memperngaruhi ginjal, tulang belakang, atau otak anak.
Penyakit ini sering menular melalui drplet atau dari percikan pernapasan yang mengandung bakteri Mycobacterium tubercolosis dari orang yang terinfeksi TBC.
Penyakit ini bisa dikategorikan dengan tanpa adanya gejala, lantaran anak yang berkontak dengan penderita TBC sangat mungkin tes darah hasilnya negatif.
Gejala akan terlihat jika sudah menginfeksi tubuh sang buah hati saat sudah parah.
3. Anemia Defisiensi Besi
Si Kecil yang kekurangan zat besi memiliki risiko negatif dalam proses perkembangannya dan juga risiko mengalami anemia.
Zat besi diketahui sebagai nutrisi penting untuk pertumbuhan dan perkembangan pada anak.
Hal tersebut dikarenakan zat besi dapat membantu memindahkan oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh dan membantu otot menyimpan atau menggunakan oksigen.
Kekurang zat besi pada anak ada beberapa tingkatan , mulai dari defisiensi ringan hingga anemia difiensi besi.
Hal ini terjadi lantaran darah tidak memiliki cukup sel darah merah sehat, sehingga akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Kondisi anemia defiensi besi ini juga tidak akan memperlihatkan gejala pada fisik sang buah hati.
Sehingga diperlukan untuk melakukan pengecekan darah anak melalui laboratorium.
4. Cacat Jantung Bawaan
Cacat pada jantung bawaan ini bisa terjadi pada sekitar 1 dari setiap 100 kelahiran secara global.
Penyakit ini disebabkan oleh jantung atau pembuluh darah di sekitar jantung tidak berkembang secara benar.
Cacat jantung, baik yang ringan maupun parah akan mengganggu kemampuan jantung bekerja optimal.
Bisa dilakukan pengecekan untuk mengetahui kelainan pada jantung bawaan serius, dengan cara melakukan skrining bayi selama 24 jam setelah kelahiran.
Namun, beberapa kelainan jantung bawaan seperti cacat septum atrium atau lubang di dinding jantung baru dapat terdiagnosis ketika anak berusia belasan tahun lebih.
5. Gagal Ginjal Pada Anak
Penyakit gagal ginjal juga termasuk ke dalam yang tidak memunculkan gejala apapun jika sudah terkena.
Hal tersebut dikarenakan gejalanya sulit dilihat pada tahap awal, termasuk juga pada anak-anak.
Biasanya gejala penyakit ini muncul ketika sudah memasuki stadium lanjut dan tingkat keparahannya sudah melewati batas wajar atau tinggi.