
Apa yang Bisa Orang Tua Lakukan?
1. Dengarkan tanpa menghakimi
Jika anak bercerita, tahan keinginan untuk langsung menyalahkan, memarahi, atau meminta anak membalas. Katakan bahwa orang tua akan membantu mencari jalan yang aman.
2. Dokumentasikan kejadian
Catat waktu, tempat, saksi, cedera, pesan digital, atau informasi lain yang relevan. Dokumentasi membantu sekolah dan pihak terkait memahami pola kejadian.
3. Hubungi sekolah melalui jalur resmi
Sampaikan laporan kepada wali kelas, guru BK, atau mekanisme pencegahan dan penanganan kekerasan yang tersedia. Mintalah tindak lanjut yang berorientasi pada keselamatan anak.
4. Ajarkan batas candaan fisik
Anak perlu memahami bahwa menarik kursi, mendorong, menjegal, atau melakukan prank yang membahayakan bukan bentuk humor yang sehat.
5. Cari bantuan profesional bila diperlukan
Jika anak mengalami ketakutan berat, perubahan perilaku berkepanjangan, cedera, atau gangguan fungsi sehari-hari, konsultasikan dengan tenaga kesehatan atau psikolog.
Peran Sekolah: Jangan Menunggu Kasus Menjadi Viral
Sekolah perlu memiliki sistem pelaporan yang aman, respons cepat terhadap kekerasan, edukasi anti-perundungan, pengawasan area rawan, serta pendampingan psikososial bagi anak. KPAI pada 2026 kembali mendorong kolaborasi keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan media untuk mencegah bullying secara berkelanjutan.
Yang juga penting, sekolah sebaiknya tidak mengecilkan tindakan berbahaya sebagai “kenakalan biasa”. Respons dini dapat mencegah pola kekerasan berkembang dan membantu semua anak—korban, saksi, maupun anak yang melakukan tindakan—mendapat intervensi yang tepat.