Warga Palestina di Gaza mengatakan bahwa mereka mulai menerima peringatan baru dari militer Israel untuk pindah dari Gaza utara ke selatan jalur Gaza.
Dengan peringatan tambahan bahwa mereka dapat diidentifikasi sebagai simpatisan organisasi teroris jika mereka tetap tinggal di Gaza.
“Mustahil bagi rumah sakit yang penuh sesak ini untuk mengevakuasi pasien dengan aman,” ungkap Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia Tedros Dhanom Ghebreyesus di platform X.
“Mereka harus diizinkan untuk melakukan fungsi penyelamatan nyawa mereka, mereka harus dilindungi,” sambungnya.
Tak berhenti sampai di situ, Kepala Bantuan PBB Martin Griffiths mengatakan pasokan bahan bakar sangat penting untuk tujuan kemanusiaan.
Selain kebutuhan bahan bakar yang mendesak, UNICEF juga menyerukan akses kemanusiaan yang berkelanjutan di Gaza.
Bahwa badan PBB hanya mampu mengirim sekitar empat puluh empat ribu botol air minum ke Gaza melalui penyebrangan Rafah dan tidak ada bahan bakar.
“Dengan satu juta anak di Gaza yang kini menghadapi krisis perlindungan dan kemanusiaan yang kritis, pengiriman air adalah masalah hidup atau mati,” ucap Russell.
“Air yang terbatas pertama ini akan menyelamatkan nyawa, namun kebutuhannya sangat mendesak dan sangat besar, tidak hanya untuk air tapi juga makanan, bahan bakar, obat-obatan, serta barang dan jasa,” lanjutnya.
Melihat pemberitaan di atas membuat seluruh masyarakat di Indonesia sangat prihatin lantaran konflik ini berlangsung hingga hari ini.
Atas dasar kemanusiaan, kita doakan semoga ke depannya konflik Palestina dan Israel segera berakhir demi anak-anak dan seluruh masyarakat di Gaza bisa hidup tenang dan bahagia.***