HALLOBUNDA.CO – Sebelum mampu mengucapkan banyak kata, anak lebih dulu bereksperimen dengan suara: “ba-ba”, “ma-ma”, suara mobil “brrm”, atau bunyi kucing “meong”. Momen sederhana ini dapat dijadikan latihan meniru bunyi anak yang menyenangkan. Tujuannya bukan mengejar pengucapan sempurna, melainkan membangun perhatian bersama, kemampuan bergiliran, keberanian bersuara, dan pengalaman bahwa komunikasi mendapat respons dari orang lain.
Mengapa Meniru Bunyi Penting untuk Bicara dan Bahasa Anak?
Perkembangan komunikasi berlangsung bertahap. ASHA mencatat bayi mulai membuat rangkaian bunyi seperti “mamamama” atau “babababa” pada rentang 7–9 bulan, lalu kemampuan memahami dan menggunakan bahasa terus berkembang pada tahun-tahun berikutnya. Setiap anak memiliki ritme yang berbeda; milestone bukan alat diagnosis. Yang penting, orang tua menyediakan banyak kesempatan untuk mendengar, mencoba, menunggu, dan saling merespons.
Mulai dari Bunyi yang Mudah dan Bermakna
Bunyi sering lebih mudah ditiru daripada kata panjang karena pendek, berulang, dan terhubung dengan sesuatu yang menarik. Saat melihat mobil, Bunda bisa berkata “brrm-brrm”; ketika bermain boneka kucing, coba “meong”. Ucapkan perlahan, dekat dengan wajah anak, lalu berhenti beberapa detik. Jeda memberi anak ruang untuk memproses dan mencoba, termasuk bila responsnya baru berupa tatapan, senyum, gerakan mulut, atau suara yang belum sama.
1. Tirukan suara hewan
Pilih dua atau tiga hewan yang familiar: “moo”, “meong”, “kuk-kuruyuk”, atau “mbek”. Pegang figur atau tunjuk gambar, buat bunyinya sekali atau dua kali, lalu tunggu. Jika anak menghasilkan suara apa pun, respons dengan antusias dan ulangi model yang benar tanpa menuntut ia memperbaiki.
2. Mainkan bunyi kendaraan
Dorong mobil sambil membuat “brrm”, “tin-tin”, atau “wus”. Gabungkan bunyi dengan gerakan agar anak mendapat petunjuk visual. Setelah beberapa putaran, berhenti sebelum mobil bergerak dan beri kesempatan anak mengisi bunyinya.
3. Gunakan bunyi rutinitas sehari-hari
Aktivitas rumah kaya akan suara: air “byur”, jam “tik-tok”, pintu “tok-tok”, atau makanan panas “huh-huh”. Karena konteksnya berulang, anak lebih mudah menghubungkan bunyi dengan makna.
4. Buat permainan giliran suara
Bunda bersuara “pa-pa”, lalu berhenti dan tatap anak seolah berkata, “sekarang giliranmu”. Tidak harus sama persis. Bila anak menjawab “aa”, anggap itu sebagai giliran komunikasi dan balas lagi. Pola bolak-balik inilah yang membuat latihan terasa seperti percakapan, bukan tes.