Nutrisi yang Sering Terlupa pada Anak Aktif: 7 Zat Gizi Penting agar Tumbuh Optimal

Syafaria Hadyandari
11 Min Read
anak aktif menikmati menu bergizi bersama ibu di rumah
Anak aktif menikmati menu bergizi bersama ibu di rumah

HALLOBUNDA.CO – Anak yang aktif berlari, bermain, bersekolah, dan mengikuti kegiatan tambahan terlihat penuh energi. Namun, aktif tidak selalu berarti kebutuhan gizinya otomatis terpenuhi. Dalam keseharian, orang tua sering sudah memastikan anak makan nasi, lauk, dan susu, tetapi beberapa zat gizi mikro tetap dapat terlewat karena pilihan makanan kurang beragam, porsi kecil, kebiasaan memilih-milih makanan, atau jadwal makan yang tidak teratur.

Mikronutrien dibutuhkan dalam jumlah kecil, tetapi perannya besar. Organisasi Kesehatan Dunia WHO — Healthy Diet menjelaskan bahwa vitamin dan mineral seperti zat besi, yodium, zinc, dan kalsium diperlukan untuk pertumbuhan dan fungsi tubuh yang normal. Kekurangan mikronutrien tidak selalu langsung terlihat. Pada sebagian anak, sinyal awalnya dapat berupa cepat lelah, sulit berkonsentrasi, nafsu makan berubah, sering sakit, atau pertumbuhan yang perlu dipantau lebih dekat. Gejala tersebut tidak spesifik; penyebabnya bisa beragam sehingga diagnosis tidak boleh dibuat hanya dari satu tanda.

Baca Juga  Stop Berikan si Kecil Minum Teh Tiap Pagi! Begini 7 Bahayanya yang Sering Disepelekan

Mengapa Anak Aktif Bisa Mengalami Celah Nutrisi?

Kebutuhan energi anak aktif memang meningkat, tetapi tambahan energi yang berasal dari makanan padat gula atau tepung belum tentu menambah kepadatan vitamin dan mineral. Anak dapat merasa kenyang setelah mengonsumsi minuman manis, biskuit, atau makanan ringan, sementara ruang untuk lauk, sayur, buah, dan sumber lemak baik menjadi berkurang.

Faktor lain adalah fase picky eating. Anak usia prasekolah dapat menolak tekstur, warna, atau aroma tertentu. Pada usia sekolah, jadwal pagi yang terburu-buru, bekal yang tidak habis, serta aktivitas sepulang sekolah juga dapat membuat pola makan tidak konsisten. Anak yang menghindari kelompok pangan tertentu karena alergi, pola makan vegetarian, atau alasan sensorik memerlukan perencanaan lebih cermat.

Baca Juga  Ibu di Indonesia Banyak yang Berhenti Memberikan ASI Lebih Dini, 45 Persen Dipicu Karena Bekerja

Karena itu, indikator “anak tetap lincah” tidak cukup untuk menilai kecukupan gizi. Pemantauan pertumbuhan, variasi menu, kebiasaan buang air besar, kualitas tidur, stamina, dan hasil pemeriksaan tenaga kesehatan memberi gambaran yang lebih utuh.

Share this Article
Reading: Nutrisi yang Sering Terlupa pada Anak Aktif: 7 Zat Gizi Penting agar Tumbuh Optimal