Parenting 2026: Lebih Realistis, Tidak Mengejar “Perfect Parent”

Syafaria Hadyandari
8 Min Read
Parenting realistis 2026 ibu dan anak menikmati momen sederhana di rumah
Parenting realistis 2026 ibu dan anak menikmati momen sederhana di rumah
Parenting realistis bukan perfect parenting
Parenting realistis bukan perfect parenting

7 Prinsip Parenting yang Lebih Realistis di 2026

1. Pilih prioritas keluarga, bukan semua tren

Tentukan tiga atau empat nilai inti—misalnya keamanan, komunikasi, tidur cukup, dan waktu bersama. Gunakan nilai itu sebagai filter sebelum menambah rutinitas baru.

2. Ganti target “tidak pernah marah” menjadi “tahu cara memperbaiki”

Orang tua bisa kehilangan kesabaran. Hentikan respons yang menyakiti, tenangkan diri, lalu lakukan repair: akui apa yang terjadi, minta maaf jika perlu, dan tunjukkan respons yang lebih baik.

Baca Juga  Tak Hanya Kosmestik, BPOM Rilis 8 Obat Tradisional Ilegal yang Berbahaya, Begini Tips Menentukan Aman atau Tidaknya

3. Bedakan kebutuhan anak dengan tekanan sosial

Anak membutuhkan tidur dan nutrisi yang memadai; ia tidak membutuhkan pesta, bekal, atau rumah yang sempurna untuk media sosial.

4. Berhenti mengoptimalkan setiap menit

Bermain bebas, bosan, mengobrol di perjalanan, dan membantu pekerjaan rumah juga bagian dari kehidupan. Tidak semua waktu harus menjadi proyek stimulasi.

5. Ukur konsistensi dalam minggu, bukan satu hari

Satu malam tidur terlambat, satu hari screen time lebih panjang, atau satu makan malam praktis tidak menggambarkan keseluruhan pola keluarga.

6. Masukkan kebutuhan orang tua ke sistem keluarga

Istirahat, meminta bantuan, pembagian tugas, dan waktu pemulihan membantu mempertahankan kapasitas merawat keluarga.

Baca Juga  Pekan ASI Sedunia 2023 Telah Tiba, Begini Latar Belakang dari Tema, Sejarah, dan Tujuannya

7. Izinkan strategi berubah

Pendekatan yang efektif pada usia tiga tahun belum tentu cocok pada usia delapan. Adaptif lebih realistis daripada mempertahankan metode hanya karena pernah berhasil.

Tanda Bunda Terjebak Mode “Perfect Parent”

  • Merasa satu kesalahan kecil akan merusak perkembangan anak.
  • Terus membandingkan rutinitas keluarga dengan konten parenting online.
  • Sulit beristirahat karena selalu ada hal yang harus dioptimalkan.
  • Merasa bersalah ketika memilih solusi praktis meski aman.
  • Mengganti strategi setiap melihat metode baru.
  • Merasa nilai diri sebagai orang tua ditentukan perilaku anak di depan orang lain.

Jika beberapa hal terasa familiar, pilih satu tekanan yang paling menguras energi. Tanyakan: apakah ini kebutuhan nyata anak, preferensi keluarga, atau standar yang datang dari perbandingan?

Baca Juga  Stop Unggah Sembarangan, Bun! Ini Alasan Privasi Anak Harus Dijaga
Share this Article
Reading: Parenting 2026: Lebih Realistis, Tidak Mengejar “Perfect Parent”