HALLOBUNDA.CO – Bekal makan harus bergizi, rumah rapi, screen time terkendali, anak distimulasi, emosi selalu divalidasi, orang tua tidak boleh kehilangan kesabaran—lalu semua momen keluarga seolah harus terlihat hangat. Di tengah banjir tips parenting, standar menjadi “orang tua baik” dapat terasa seperti daftar tugas yang tidak pernah selesai.
Salah satu arah parenting 2026 justru bergerak ke sesuatu yang lebih membumi: parenting realistis. Bukan mengabaikan kebutuhan anak, tetapi berhenti mengukur kualitas pengasuhan dari kemampuan melakukan semuanya dengan sempurna. Fokusnya bergeser pada hal fundamental—anak merasa aman, dicintai, didengar, memiliki batas yang dapat diprediksi, dan melihat orang dewasa bersedia memperbaiki kesalahan.
Mengapa “Perfect Parenting” Terasa Semakin Melelahkan?
Media sosial membuat pengetahuan parenting mudah diakses, tetapi juga memperlihatkan potongan kehidupan keluarga lain sepanjang hari. Rutinitas pagi rapi, bekal kreatif, aktivitas sensori, rumah minimalis, dan respons orang tua yang selalu tenang dapat terlihat seperti standar minimum—padahal yang terlihat sering hanya satu bagian kecil dari kehidupan nyata.
Tekanan untuk sempurna bukan isu sepele. Studi 2026 di Acta Psychologica menemukan bahwa perfectionism memperkuat hubungan antara parenting stress dan parental burnout pada sampel ibu yang diteliti. Riset parental burnout sendiri terus berkembang sebagai bidang yang mempelajari kelelahan intens terkait peran pengasuhan, jarak emosional, dan menurunnya rasa mampu sebagai orang tua.
Realistis Bukan Berarti Menurunkan Standar
Ada perbedaan antara melepaskan perfeksionisme dan melepaskan tanggung jawab. Parenting realistis tetap menjaga keselamatan, kesehatan, kebutuhan perkembangan, dan batas perilaku. Yang dilepas adalah tuntutan bahwa semua keputusan harus optimal setiap saat.
UNICEF Asia Pacific dalam panduan positive parenting 2026 menegaskan bahwa tidak ada orang tua yang menjalankan parenting dengan sempurna. Untuk anak usia sekolah, fokusnya adalah membimbing alih-alih mengontrol, memberi dorongan, mendengarkan, dan membantu anak belajar mengelola emosi.