
Mengapa Balita Paling Rentan Saat Bencana?
Balita sedang berada dalam fase pertumbuhan cepat. Mereka membutuhkan energi dan zat gizi yang cukup, tetapi kapasitas makan masih terbatas. Ketika keluarga kehilangan dapur, air bersih, bahan pangan, atau akses posyandu dan puskesmas, kualitas serta frekuensi makan dapat turun. Diare, demam, dan infeksi saluran pernapasan juga dapat memperburuk status gizi.
1. Pertahankan pemberian makan bayi yang aman
Untuk bayi yang menyusu, dukungan terhadap ibu menjadi prioritas. UNICEF dalam respons bencana di Indonesia menekankan bahwa menyusui merupakan sumber makanan yang aman, bergizi, dan dapat diandalkan bagi bayi, terutama ketika air bersih dan sanitasi terganggu. Ibu membutuhkan ruang yang aman, dukungan psikososial, makanan dan cairan yang cukup, serta konseling bila mengalami kesulitan.
2. Jangan membagikan susu formula secara sembarangan
Donasi formula, botol, atau produk pengganti ASI sebaiknya tidak didistribusikan bebas. Bayi yang memang memerlukan pengganti ASI membutuhkan asesmen, pasokan yang berkelanjutan, air aman, cara persiapan higienis, dan pemantauan tenaga terlatih. Bantuan yang tidak terkoordinasi dapat menciptakan risiko baru.
3. Jaga MPASI tetap aman dan sesuai usia
Anak usia 6–23 bulan tetap membutuhkan makanan pendamping yang cukup energi dan zat gizi. Dalam pengungsian, pilihan bahan mungkin terbatas. Prioritasnya adalah makanan yang sesuai usia, mudah dikonsumsi, aman, tidak basi, dan dibuat dengan air serta peralatan yang higienis.
4. Lakukan skrining dan rujukan gizi
Anak yang tampak sangat kurus, lemas, sulit makan, mengalami pembengkakan pada kedua kaki, atau terus sakit perlu segera dinilai tenaga kesehatan. Sistem NiE juga membutuhkan pemantauan dan tata laksana wasting atau gizi akut agar kasus berisiko tidak terlambat ditangani.