HALLOBUNDA.CO – Setiap anak berkembang dengan ritme yang berbeda. Ada yang cepat mengucapkan kata pertama, ada pula yang lebih banyak mengamati sebelum mulai berbicara. Variasi ini wajar, tetapi bukan berarti semua keterlambatan cukup ditunggu. Dalam perkembangan bicara dan bahasa, red flag speech delay adalah tanda yang menunjukkan anak mungkin membutuhkan pemantauan lebih lanjut atau evaluasi profesional. Red flag bukan diagnosis dan tidak otomatis berarti anak memiliki gangguan tertentu. Fungsinya adalah membantu orang tua bertindak lebih awal ketika perkembangan komunikasi tampak tidak sesuai pola yang diharapkan.
Apa Itu Speech Delay dan Mengapa Perlu Dikenali?
Speech delay sering digunakan untuk menyebut anak yang perkembangan bicaranya tertinggal. Namun komunikasi tidak hanya berkaitan dengan jumlah kata. Profesional juga melihat kemampuan anak memahami bahasa, menggunakan gestur, meniru bunyi, melakukan interaksi dua arah, merespons suara, dan menyampaikan kebutuhan. NIDCD menjelaskan bahwa keterampilan bicara dan bahasa berkembang melalui suatu urutan alami, meski waktunya dapat bervariasi pada setiap anak.
Milestone perkembangan sebaiknya dipakai sebagai panduan pemantauan, bukan target perlombaan. CDC mendefinisikan milestone sebagai kemampuan yang dapat dilakukan sebagian besar anak pada usia tertentu. Bila anak tidak mencapai satu milestone, orang tua tidak perlu langsung menyimpulkan diagnosis. Namun kekhawatiran tetap layak dibicarakan dengan dokter, terutama jika ada beberapa tanda sekaligus atau anak kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dimiliki.
10 Red Flag Speech Delay yang Perlu Diperhatikan
1. Tidak merespons suara atau namanya secara konsisten
Anak yang sering tidak menoleh saat dipanggil atau tampak tidak menyadari suara di sekitarnya perlu diperhatikan. Respons yang tidak konsisten dapat berkaitan dengan pendengaran, perhatian, atau aspek perkembangan lain. Pemeriksaan pendengaran penting karena kemampuan mendengar mendukung perkembangan suara, bicara, dan bahasa.
2. Sangat sedikit menggunakan kontak mata, gestur, atau komunikasi nonverbal
Sebelum lancar berbicara, anak berkomunikasi melalui tatapan, ekspresi, menunjuk, melambaikan tangan, mengangguk, atau mengulurkan tangan untuk meminta bantuan. Minimnya upaya berbagi perhatian atau menyampaikan maksud melalui gestur dapat menjadi alasan untuk berkonsultasi.
3. Belum mencoba mengucapkan kata bermakna sekitar usia 15–18 bulan
Pada rentang ini, banyak anak mulai mencoba mengucapkan beberapa kata selain “mama” atau “dada”. CDC mencantumkan usaha mengucapkan satu atau dua kata lain pada 15 bulan dan tiga kata atau lebih pada 18 bulan sebagai milestone komunikasi. Pengucapan belum harus sempurna; yang diamati adalah adanya usaha yang konsisten dan bermakna.
4. Kesulitan memahami instruksi sederhana
Contohnya, anak berulang kali kesulitan mengikuti arahan satu langkah seperti “berikan bolanya” tanpa bantuan gestur, padahal instruksi sudah familiar. Kesulitan memahami bahasa perlu diperhatikan karena keterlambatan dapat melibatkan aspek reseptif, bukan hanya kemampuan mengucapkan kata.