HALLOBUNDA.CO – Ketika si Kecil menyebut “tatu” untuk “satu” atau “cucu” untuk “susu”, Bunda mungkin bertanya-tanya apakah pengucapannya perlu dilatih. Anak memang belajar menghasilkan bunyi bicara secara bertahap. Pada masa awal, beberapa bunyi lebih sulit diucapkan dibanding bunyi lainnya. Namun, pola yang menetap, ucapan yang sangat sulit dipahami, atau anak yang tampak kesulitan berkomunikasi perlu mendapat perhatian.
Stimulasi artikulasi anak di rumah sebaiknya berangkat dari interaksi yang menyenangkan. Bukan meminta anak mengulang satu kata berkali-kali, melainkan menyediakan contoh pengucapan yang jelas, kesempatan berbicara, dan respons yang hangat. Bila ada kekhawatiran mengenai perkembangan bunyi bicara, pemeriksaan terapis wicara dapat membantu menentukan apakah latihan khusus memang diperlukan.
Apa Itu Artikulasi dan Mengapa Bunyi Anak Bisa Berbeda?
Menurut ASHA, artikulasi adalah proses membentuk bunyi bicara menggunakan gerakan dan koordinasi bibir, lidah, rahang, serta aliran udara. Anak mempelajari bunyi melalui mendengar, memperhatikan, mencoba, dan menggunakan kata dalam percakapan. Ada anak yang mengganti bunyi, menghilangkan bagian kata, atau menyederhanakan rangkaian bunyi ketika kemampuan bicaranya masih berkembang.
Tidak semua ketidakjelasan pengucapan berarti gangguan. Jenis kesalahan, konsistensinya, usia anak, kemampuan mendengar, dan seberapa jauh ucapan dipahami oleh orang di luar keluarga perlu dilihat bersama. Kesulitan mengucapkan bunyi juga berbeda dari keterlambatan kosakata atau kesulitan memahami bahasa, meskipun beberapa kondisi dapat terjadi bersamaan.
6 Aktivitas Stimulasi Artikulasi Sederhana yang Lebih Natural
1. Beri contoh kata yang benar tanpa menyalahkan
Saat anak mengatakan “tatu”, Bunda bisa menjawab, “Iya, satu mobil merah!” Ulangi bentuk kata yang tepat secara alami, tanpa berkata “Salah, ulangi!” Teknik ini memberi model bunyi sekaligus menjaga percakapan tetap mengalir.
2. Gunakan permainan bunyi yang punya makna
Saat bermain mobil, tirukan “brum-brum”; saat melihat kereta, ucapkan “tut-tut”. Ajak anak ikut bila tertarik, tetapi tidak perlu memaksa. Bunyi permainan dapat membuka interaksi dan perhatian terhadap suara, walaupun tidak otomatis memperbaiki semua kesalahan artikulasi.
3. Baca buku bergambar dengan kata yang berulang
Pilih halaman berisi benda atau tokoh yang disukai anak. Ulangi kata target dalam kalimat singkat, misalnya “Bola. Bola jatuh. Ayo ambil bola.” Tunjuk gambar, beri jeda, dan respons setiap usaha anak berbicara. Aktivitas ini membantu anak mendengar model kata dalam konteks yang jelas.

Subscribe to my channel