Zaman dahulu, sebelum diciptakannya benda yang bernama popok sekali pakai, kebanyakan orang tua harus bangun di tengah malam untuk mengganti popok kain yang kotor.
Apalagi saat popok tersebut bocor dan tidak bisa menampung buang air besar dan buang air kecil.
Setelah Marion Donovan menemukan pospak pertama pada tahun 1950, rutinitas orang tua di malam hari tersebut menjadi agak lebih ringan.
Dengan adanya pospak, sang buah hati dapat tidur lebih nyaman dan orang tua tidak perlu lagi sering membersihkan kasur yang terkena ompol.
Meski keberadaannya sangat membantu orang tua, namun pospak dapat menimbulkan efek lain yang tak bisa dianggap enteng.
Diketahui pospak menjadi penyumbang limbah terbesar ketiga di tempat pembuangan sampah.
Untuk mengurangi limpah tersebut, setidaknya ada dua hal yang dapat dilakukan oleh para orang tua.
Pertama dengan memberikan edukasi mengenai bagaimana mengelola limbah pospek, sementara yang kedua adalah membekali anak dengan keterampilan mengendalikan dan membuang air sesuai tempatnya.
Cara yang kedua ini terkait dengan pemberian toilet training pada sang buah hati, umumnya sejak mereka berusia toddler.
Keterlambatan memberikan pelatihan tersebut akan memperpanjang masa penggunaan pospak.
Selain itu keterlambatan melakukan toilet training bukan hanya berdampak pada peningkatan limbah pospak, namun juga aspek psikologis dan sosial anak.
Sayangnya orang tua tidak semua memahami dan memiliki keterampilan untuk menerapkan pelatihan tersebut.
Dampak Buruk Jika Orang Tua Terlambat Memperkenalkan Toilet Training

Dikutip dari situs Buletin, ada beberapa permasalahan yang ditimbulkan jika Bunda dan Ayah terlambat memperkenalkan hal tersebut kepada si Kecil.
Seperti halnya anak akan mengompol, buang air besar serta buang air kecil di sembarang tempat.
Apalagi saat si Kecil sudah memasuki usia sekolah yang diakibatkan oleh kegagalan toilet training di usia dini akan memberikan dampak yang kurang baik untuk perkembangan di masa depan.