Ibu Menyusui Mengalami Penurunan di Korea Selatan

Tingkat kelahiran yang minim tentu membuat peran ibu menyusui semakin tak terlihat.
Selain itu, banyaknya ibu bekerja juga mendorong fakta menyedihkan yang terjadi di Korea Selatan, yakni semakin sedikitnya orang yang menyusui anaknya.
Proporsi bayi Korea yang disusui oleh ibu mereka enam bulan setelah lahir turun dari 66 persen pada tahun 2010-2012 menjadi 34 persen pada tahun 2019-2020, menurut sebuah studi yang dirilis The Journal of Korean Medical Science.
Peneliti Chang Ju-young dan Oh So-hee dari Boramae Medical Center di Seoul dan Hong Jea-na dari Kangwon National University menemukan bahwa angka tersebut turun dari 65,9 persen selama periode tersebut menjadi hanya 33,6 persen.
Itu termasuk ibu yang menggunakan campuran ASI dan susu formula.
Rasio ibu yang hanya memberi anak mereka ASI turun paling tajam dari 42,8 persen menjadi 13,1 persen.
Perkembangan ini bertolak belakang dengan tren global, di mana pemberian ASI semakin didorong karena manfaatnya yang sangat besar bagi kesehatan anak dan, menurut Organisasi Kesehatan Dunia, rata-rata global adalah 41 persen pada tahun 2017.
ASI terbukti lebih baik untuk bayi baru lahir karena mengandung campuran nutrisi penting yang seimbang seperti karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin, dan antibodi yang mendukung sistem kekebalan tubuh bayi.
Bayi yang disusui dilaporkan memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit seperti dermatitis atopik, asma, dan obesitas dibandingkan dengan mereka yang diberi susu formula.
Selain itu, bayi yang disusui cenderung memiliki perkembangan otak yang lebih cepat.
Menyusui juga bermanfaat bagi ibu. Penelitian telah menunjukkan bahwa wanita yang menyusui memiliki risiko lebih rendah terkena kondisi seperti kolesterol tinggi, diabetes, dan kanker payudara. Proses menyusui juga dapat meningkatkan ikatan emosional antara ibu dan bayi.
WHO and the American Academy of Pediatrics merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi.
Diikuti dengan pemberian ASI berkelanjutan beserta makanan pendamping hingga 1-2 tahun, yang memang merupakan tantangan berat bagi banyak ibu menyusui.
Alasan utama penurunan angka tersebut di Korea adalah meningkatnya jumlah ibu yang bekerja dan kurangnya kesadaran untuk memberikan ASI pada bayi.