Bagaimanapun, Ayah dan Bunda perlu memperhatikan beberapa hal ini saat bertengkar atau berselisih:
1. Tidak Bertengkar tentang Anak di Depannya
Terkadang anak memang perlu untuk melihat pertengkaran agar ia dapat belajar dalam menangani konflik. Selain itu juga memahami bahwa konflik merupakan salah satu bagian dari kehidupan.

Namun perlu ditekankan di sini bahwa pertengkaran yang ia lihat sebagai teladan adalah pertengkaran yang sehat. Pertengkaran sehat itu yaitu dalam berdebat juga ada penyelesaian, sehingga anak akan belajar bagaimana menyelesaikan masalahnya dengan orang lain ketika ia harus berkonfrontasi saat ia dewasa kelak.
Kendati demikian, orang tua tidak diperbolehkan berdebat atau bertengkar di depan anak saat topik perdebatan tersebut adalah tentang si anak itu sendiri atau masih berhubungan dengannya. Seorang terapis pernikahan dan keluarga dari Atlanta Lori Whatley menjelaskan bahwa anak yang pernah melihat orang tuanya bertengkar karena dirinya dapat mengalami depresi, cemas karena merasa telah melanggar peraturan, dan bisa juga bersikap agresi atau melakukan kekerasan fisik saat marah atau kecewa.
Maka dari itu, jika Ayah atau Bunda ada ketidaksepemahaman terkait dengan anak sebaiknya untuk ditunda dulu penyampaiannya sampai si Kecil tidak bisa mendengar apa yang sedang diperdebatkan Ayah dan Bunda. Ayah dan Bunda bisa membicarakannya saat si Kecil sudah tidur.
2. Tunjukkan bahwa Orang Tua Tetap Kompak
Terkadang perselisihan justru dibutuhkan karena perselisihan menandakan adanya komunikasi yang baik dalam mengelola rumah tangga. Ini menandakan bahwa keduanya memiliki keinginan untuk membawa keluarganya ke arah yang lebih baik.
Meskipun terkadang terjadi perdebatan, namun orang tua perlu untuk selalu menunjukkan kepada anak-anak bahwa kedua orang tuanya tetap kompak meski terkadang bertengkar. Untuk dapat menunjukkan bahwa orang tua tetap kompak meski terkadang berselisih paham membutuhkan sikap berjiwa besar dari keduanya.
Ayah dan Bunda perlu menurunkan ego masing-masing agar dapat menyelesaikan perselisihan dengan baik. Bahkan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, cara Ayah dan Bunda dalam menyelesaikan perselisihan dapat menjadi contoh bagi anak-anak. Jadi, sudah seharusnya orang tua bisa memberikan contoh yang baik dengan menyelesaikan perselisihan dengan solusi yang baik dan dapat diterima semua pihak.
Jika Ayah dan Bunda tidak bisa menunjukkan untuk tetap bersatu, maka anak akan menangkap sebagai kelemahan orang tuanya, yang nantinya dapat menjadi bumerang dan dijadikan anak sebagai bahan kesalahan orang tuanya.