HALLOBUNDA.CO – Si Kecil menarik tangan Bunda menuju lemari, menunjuk botol minum, lalu menatap wajah Bunda tanpa mengucapkan kata. Apakah ini berarti ia belum bisa berkomunikasi? Belum tentu. Jauh sebelum kalimat muncul, anak sudah belajar menyampaikan maksud melalui tatapan, ekspresi, suara, dan gestur. Menunjuk, melambaikan tangan, mengangguk, menggeleng, atau menunjukkan benda merupakan bagian dari komunikasi awal yang dapat menjadi jembatan menuju perkembangan bahasa.
Mengapa Gestur Penting Sebelum Anak Lancar Bicara?
Komunikasi berkembang lebih luas daripada kemampuan mengucapkan kata. ASHA memasukkan gestur seperti menunjuk, melambaikan tangan, menunjukkan atau memberikan benda sebagai milestone komunikasi pada masa awal. NIDCD juga mencatat bahwa pada rentang 7 bulan hingga 1 tahun, bayi mulai berkomunikasi dengan gestur dan meniru bunyi bicara. Artinya, orang tua sebaiknya memperhatikan bagaimana anak berusaha menyampaikan pesan, bukan hanya menghitung kata yang sudah diucapkan.
Gestur memberi anak cara untuk meminta, menolak, berbagi perhatian, dan mengajak orang lain melihat sesuatu yang menarik. Ketika orang tua merespons gestur dengan kata yang relevan, anak memperoleh hubungan langsung antara maksud yang sedang ia miliki dan bahasa yang ia dengar.
Apa Bedanya Menunjuk untuk Meminta dan Menunjuk untuk Berbagi?
Anak dapat menunjuk karena menginginkan sesuatu, misalnya menunjuk pisang agar Bunda mengambilkannya. Namun ia juga dapat menunjuk hanya untuk berbagi perhatian, misalnya menunjuk pesawat di langit lalu menatap Bunda. Keduanya bernilai dalam komunikasi. Pada momen seperti ini, respons sederhana seperti “Iya, pesawat! Pesawatnya terbang tinggi” memberi anak model kata tanpa mengubah interaksi menjadi tes.
7 Cara Mengubah Gestur Menjadi Kesempatan Belajar Bahasa
1. Beri nama pada benda yang ditunjuk
Saat anak menunjuk mobil, responslah dengan bahasa singkat dan jelas: “Mobil. Mau mobil?” Hindari menuntut anak mengulang kata sebelum kebutuhannya dipenuhi. Tujuannya adalah memberi model bahasa yang sesuai dengan perhatian anak.
2. Ikuti fokus perhatian anak
Anak lebih mudah terlibat ketika percakapan berangkat dari hal yang sedang menarik perhatiannya. Jika ia memperhatikan kucing, bicarakan kucing itu daripada mengalihkan perhatian ke kartu gambar yang tidak sedang ia minati.
3. Tambahkan satu atau dua kata
Jika anak sudah berkata “bola” sambil menunjuk, Bunda dapat memperluasnya menjadi “bola merah”, “bola jatuh”, atau “mau bola”. Teknik perluasan memberi contoh bahasa yang sedikit lebih kompleks tanpa mengoreksi secara keras.
4. Beri jeda sebelum membantu
Setelah anak menunjuk atau bersuara, tunggu beberapa detik sambil menunjukkan bahwa Bunda memperhatikannya. Jeda memberi ruang bagi anak untuk menambahkan suara, gestur, atau kata lain. Jangan membuat jeda terlalu lama hingga anak frustrasi.