HALLOBUNDA.CO – “Bunda, tadi dia bilang apa?” Ketika ucapan si Kecil belum mudah dipahami, orang tua mungkin spontan meminta anak mengulang berkali-kali. Padahal, pengucapan bunyi bicara berkembang bertahap. Ada bunyi yang muncul lebih awal, sementara bunyi lain membutuhkan koordinasi lidah, bibir, rahang, aliran udara, pendengaran, dan pengalaman berbahasa yang lebih matang.
Artikulasi berkaitan dengan bagaimana organ bicara menghasilkan bunyi. Namun ucapan yang belum jelas tidak selalu semata-mata masalah artikulasi. ASHA menjelaskan bahwa kesulitan bunyi bicara dapat melibatkan produksi motorik maupun pola fonologis—cara anak mengatur dan menggunakan sistem bunyi bahasa. Karena itu, stimulasi di rumah sebaiknya berupa permainan komunikasi yang ringan, bukan “terapi” mandiri untuk mengejar bunyi tertentu.
Apa Itu Stimulasi Artikulasi Anak?
Stimulasi artikulasi anak adalah kesempatan bermain dan berinteraksi yang membuat anak mendengar, mengamati, mencoba, dan mengulang berbagai bunyi bicara secara alami. Tujuannya bukan membuat setiap bunyi langsung sempurna, melainkan memperkaya pengalaman mendengar dan memproduksi suara sambil menjaga anak tetap nyaman berkomunikasi.
NIDCD menjelaskan bahwa bicara melibatkan koordinasi gerakan lidah, bibir, rahang, dan saluran vokal. Perkembangan bunyi juga mengikuti tahapan. Pada usia 1–2 tahun, misalnya, anak mulai menggunakan beragam konsonan di awal kata; pada usia 2–3 tahun, beberapa bunyi seperti k, g, f, t, d, dan n mulai muncul. Menjelang 4–5 tahun, banyak anak sudah mengucapkan sebagian besar bunyi dengan benar, meski beberapa bunyi yang lebih kompleks masih dapat berkembang kemudian. Milestone adalah panduan pemantauan, bukan target kaku untuk membandingkan anak.
7 Stimulasi Artikulasi Sederhana yang Bisa Dicoba
1. Bermain suara kendaraan dan hewan
Gunakan bunyi yang menyenangkan seperti “muu”, “meong”, “brum-brum”, atau “tut-tut”. Bunyi tiruan membuat anak bereksperimen dengan bibir, suara, ritme, dan pergantian giliran tanpa merasa sedang diuji. Ikuti bunyi yang anak pilih dan balas secara ekspresif.
2. Mainkan bunyi di depan cermin
Duduk berdampingan di depan cermin saat bermain suara sederhana. Anak dapat melihat gerakan bibir Bunda ketika membuat bunyi seperti “mmm”, “pa-pa”, atau meniup lembut. Jangan memegang atau memaksa posisi lidah anak. Cukup beri model visual yang santai dan biarkan ia mencoba bila tertarik.
3. Gunakan kata dari aktivitas yang sedang dilakukan
Pilih kata pendek yang relevan dengan rutinitas, misalnya “mau”, “makan”, “bola”, “buka”, atau “tutup”. Ucapkan dengan jelas pada kecepatan normal, bukan dieja secara berlebihan. Kata yang memiliki fungsi nyata biasanya lebih bermakna bagi anak.
4. Bermain dengan ritme dan suku kata
Tepuk tangan mengikuti suku kata nama benda atau nama anggota keluarga: “bo-la”, “se-pa-tu”, “Bu-n-da”. Aktivitas ini membantu anak memperhatikan bagian-bagian bunyi dalam kata sambil bergerak dan bermain.