HALLOBUNDA.CO – Anak tiba-tiba berhenti berbicara, menatap kosong, tidak menjawab ketika dipanggil, lalu beberapa detik kemudian kembali beraktivitas seperti tidak terjadi apa-apa. Situasi seperti ini mudah dianggap sebagai melamun atau kurang konsentrasi. Namun, bila muncul berulang dengan pola yang hampir sama, orang tua perlu mempertimbangkan kemungkinan kejang absans dan membawanya untuk dinilai oleh dokter.
Kejang tidak selalu ditandai tubuh kaku atau gerakan kelojotan. Pada kejang absans, perubahan yang terlihat dapat sangat halus. Karena itu, pengamatan orang tua dan guru menjadi penting agar episode yang berulang tidak terlewat.
Apa Itu Kejang Absans?
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia Kejang absans adalah jenis kejang dengan awitan umum yang terutama memengaruhi kesadaran dalam waktu singkat. Saat episode berlangsung, anak tampak “kosong” dan tidak menyadari keadaan sekitarnya. Setelah episode berakhir, ia biasanya segera kembali ke aktivitas sebelumnya tanpa kebingungan yang lama.
Istilah lama “petit mal” masih kadang digunakan, tetapi istilah kejang absans lebih tepat. Pada sebagian anak, kejang ini menjadi bagian dari sindrom yang disebut childhood absence epilepsy. Meski episode tunggal singkat, frekuensinya dapat berulang berkali-kali dalam sehari sebelum dikenali dan ditangani.
Ciri-Ciri Kejang Absans pada Anak
Tampilan kejang absans dapat berbeda pada setiap anak. Ciri yang sering dilaporkan meliputi:
- Anak mendadak berhenti berbicara, menulis, makan, atau bermain.
- Menatap kosong dengan pandangan lurus ke depan.
- Tidak menjawab panggilan atau instruksi selama episode.
- Kelopak mata berkedip cepat atau mata sedikit bergerak ke atas.
- Ada gerakan mulut ringan seperti mengecap atau mengunyah.
- Episode berlangsung beberapa detik dan berhenti mendadak.
- Anak langsung melanjutkan aktivitas dan sering tidak menyadari kejadian.
- Pola serupa muncul berulang pada hari yang sama atau dalam beberapa hari.
Satu tanda saja tidak cukup untuk memastikan diagnosis. Dokter perlu menilai keseluruhan pola, riwayat kesehatan, pemeriksaan, dan bila diperlukan hasil elektroensefalografi atau EEG.