
Kejang Absans atau Melamun: Apa Bedanya?
Melamun biasanya terjadi saat anak bosan, lelah, atau menghadapi aktivitas monoton. Anak yang melamun umumnya dapat kembali memberi perhatian setelah dipanggil, disentuh ringan, atau diberikan rangsangan lain. Sebaliknya, kejang absans muncul mendadak dan anak tidak dapat “dibangunkan” dari episode hanya dengan panggilan biasa.
| Pembeda | Melamun | Kejang absans |
| Pemicu | Sering saat bosan atau lelah | Dapat terjadi kapan saja |
| Awal/akhir | Cenderung bertahap | Mendadak |
| Respons | Biasanya dapat dialihkan | Tidak merespons selama episode |
| Durasi | Bervariasi dan bisa lebih lama | Umumnya sangat singkat |
| Setelah episode | Sadar bahwa sedang melamun | Sering tidak menyadari kejadian |
| Pola | Tidak selalu seragam | Dapat berulang dengan pola mirip |
Tabel ini hanya membantu pengamatan awal. Beberapa kondisi lain juga dapat menyebabkan anak menatap kosong, sehingga diagnosis tidak boleh dibuat sendiri di rumah.
Mengapa Kejang Absans Perlu Dikenali?
Karena berlangsung singkat, satu episode mungkin tampak tidak mengganggu. Namun, bila terjadi berkali-kali, anak dapat kehilangan potongan informasi saat guru menjelaskan, saat membaca, atau ketika mengikuti instruksi. Akibatnya, ia mungkin terlihat tidak fokus, lambat menyelesaikan tugas, atau prestasi belajarnya menurun.
Hal ini bukan berarti setiap anak dengan kejang absans pasti mengalami gangguan belajar. Dampaknya bergantung pada frekuensi episode, kondisi epilepsi secara keseluruhan, kualitas tidur, terapi, serta kebutuhan perkembangan anak. Evaluasi dini membantu memastikan anak memperoleh dukungan yang sesuai.
Penyebab dan Faktor yang Berkaitan
Kejang terjadi akibat aktivitas listrik otak yang tidak normal dan berlangsung sementara. Pada kejang absans, aktivitas tersebut melibatkan jaringan otak di kedua sisi sejak awal. Faktor genetik dapat berperan pada sejumlah sindrom epilepsi anak, tetapi orang tua tidak perlu menyalahkan diri sendiri karena kondisi ini bukan akibat pola asuh.
Kurang tidur, stres, atau lupa obat pada anak yang sudah terdiagnosis epilepsi dapat memengaruhi kontrol kejang. Namun, faktor tersebut bukan dasar untuk mendiagnosis kejang absans pada anak yang belum pernah diperiksa.
Bagaimana Dokter Mendiagnosis Kejang Absans?
Dokter akan menanyakan kapan episode pertama kali terlihat, berapa kali terjadi, berapa lama berlangsung, apa yang dilakukan anak sebelum dan setelah episode, serta apakah ada riwayat kejang lain. Informasi dari guru dapat sangat membantu karena episode sering terlihat saat anak belajar.
Pemeriksaan EEG digunakan untuk merekam aktivitas listrik otak. Dalam evaluasi tertentu, dokter dapat meminta anak bernapas cepat selama beberapa menit di bawah pengawasan karena hiperventilasi dapat memunculkan pola khas kejang absans pada sebagian pasien. Prosedur ini tidak sebaiknya dicoba sendiri di rumah.
Diagnosis tidak hanya bergantung pada satu gejala atau satu hasil pemeriksaan. Dokter akan menyatukan riwayat klinis, hasil pemeriksaan fisik dan neurologis, serta data EEG. Pemeriksaan tambahan hanya dilakukan bila ada indikasi.