HALLOBUNDA.CO – “Anak tetangga seusianya sudah cerewet, kok si Kecil masih sedikit bicara?” Kekhawatiran seperti ini cukup sering muncul. Perkembangan komunikasi memang berbeda pada setiap anak, sehingga membandingkan jumlah kata saja belum cukup untuk menentukan ada atau tidaknya keterlambatan. Namun, ada sejumlah red flag speech delay yang layak diperhatikan—terutama bila anak kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dimiliki, tidak menunjukkan kemajuan, atau melewatkan beberapa keterampilan komunikasi dalam rentang usianya.
Speech Delay Tidak Hanya Soal Jumlah Kata
Speech atau bicara berkaitan dengan produksi bunyi untuk menyampaikan kata, sedangkan language atau bahasa mencakup kemampuan memahami dan mengekspresikan pesan. Karena itu, saat memantau perkembangan anak, Bunda perlu melihat gambaran yang lebih luas: apakah ia merespons suara, menggunakan gestur, memahami instruksi, menambah kosakata, menggabungkan kata, dan terlibat dalam komunikasi dua arah.
NIDCD menjelaskan bahwa anak berkembang dengan kecepatan berbeda, tetapi keterampilan bicara dan bahasa mengikuti suatu progres perkembangan. Masalah pendengaran juga dapat memengaruhi perkembangan komunikasi. Jika ada kekhawatiran, evaluasi oleh dokter dan profesional bicara-bahasa dapat disertai pemeriksaan pendengaran.
Red Flag Speech Delay yang Perlu Dicermati Sesuai Tahap Usia
1. Respons terhadap suara dan interaksi sangat terbatas
Sejak awal kehidupan, komunikasi bukan hanya kata. Bayi belajar merespons suara, wajah, dan interaksi bolak-balik. Bila Bunda merasa anak sering tidak merespons suara atau harus dipanggil sangat keras/berulang, diskusikan juga kemungkinan pemeriksaan pendengaran dengan tenaga kesehatan.
2. Menjelang akhir tahun pertama, gestur dan komunikasi awal sangat minim
Pada rentang 10–12 bulan, ASHA mencantumkan keterampilan seperti menunjuk, melambaikan tangan, serta menunjukkan atau memberikan benda sebagai bagian dari milestone komunikasi. NIDCD juga mencantumkan gestur, imitasi bunyi, dan satu atau dua kata sekitar ulang tahun pertama dalam checklist perkembangan komunikasi.
3. Usia 13–18 bulan kesulitan memahami arahan sederhana
Pada usia 13–18 bulan, contoh milestone ASHA termasuk mengikuti arahan seperti “Berikan bolanya” atau “Tunjukkan hidungmu”. CDC mencatat bahwa pada 18 bulan kebanyakan anak mencoba mengatakan tiga atau lebih kata selain “mama” atau “dada” dan mengikuti instruksi satu langkah tanpa gestur. Satu milestone yang belum tercapai tidak otomatis berarti gangguan, tetapi pola beberapa keterampilan yang tertinggal patut dibicarakan dengan dokter.
4. Usia 19–24 bulan belum berkembang menuju kombinasi kata
ASHA menyebut bahwa pada rentang 19–24 bulan anak umumnya mulai menggabungkan dua kata atau lebih, sementara CDC mencantumkan penggunaan setidaknya dua kata bersama sebagai milestone usia 2 tahun. Pada rentang ini, ASHA juga mencantumkan penggunaan dan pemahaman sedikitnya sekitar 50 kata sebagai salah satu milestone.