Bukan Sekadar Membacakan: 7 Cara Membuat Buku Jadi Ruang Percakapan Anak

Syafaria Hadyandari
7 Min Read
ibu membaca buku interaktif bersama anak dan membangun percakapan dua arah
ibu membaca buku interaktif bersama anak dan membangun percakapan dua arah

HALLOBUNDA.COSaat membaca buku bersama, si Kecil tiba-tiba menunjuk gambar kucing, bersuara “meong”, lalu membalik halaman sebelum Bunda selesai membaca. Tidak perlu buru-buru mengembalikannya ke teks. Momen kecil seperti itu justru dapat menjadi pintu percakapan. Dalam membaca buku interaktif anak, tujuan utamanya bukan menamatkan cerita, melainkan menciptakan interaksi dua arah: anak melihat, mendengar, menunjuk, menjawab, meniru, dan perlahan ikut bercerita.

Mengapa Buku Bisa Menjadi Ruang Percakapan Anak?

Shared book reading memberi orang tua dan anak topik yang sama untuk diperhatikan. Gambar, tokoh, tindakan, dan alur cerita menyediakan banyak kesempatan untuk mengenalkan kata serta menghubungkannya dengan pengalaman sehari-hari. Pendekatan dialogic reading bahkan menempatkan anak sebagai peserta aktif: orang dewasa memberi arahan, menanggapi jawaban, lalu memperluas respons anak.

Baca Juga  Anak Belum Banyak Bicara? Kenali Tahap Kata Pertama dan Cara Menstimulasinya

Riset tentang membaca bersama menunjukkan gambaran yang bernuansa. Sejumlah studi mendukung manfaat interaksi membaca yang kaya bahasa, sementara sebuah randomized controlled trial menemukan bahwa pelatihan membaca interaktif berhasil mengubah perilaku membaca caregiver tetapi tidak menghasilkan peningkatan bahasa yang lebih besar dibanding kelompok membaca aktif dalam intervensi enam minggu. Karena itu, membaca interaktif sebaiknya dipandang sebagai konteks komunikasi yang kaya, bukan metode yang menjanjikan anak pasti lebih cepat bicara.

7 Cara Membuat Membaca Buku Lebih Interaktif

1. Ikuti halaman yang menarik perhatian anak

Tidak masalah bila anak ingin berhenti lama di satu gambar atau kembali ke halaman sebelumnya. Ikuti fokusnya, lalu beri komentar singkat seperti, “Wah, ada bus besar!” Ketertarikan anak membuat percakapan terasa alami, bukan seperti tugas.

Baca Juga  Bermain Jadi Lebih Bermakna: 10 Permainan Peran untuk Melatih Bahasa dan Emosi Anak

2. Tunjuk gambar dan tambahkan kata sederhana

Gunakan gambar sebagai jangkar bahasa. Bunda dapat berkata, “Kucing,” lalu memperkaya menjadi, “Kucing putih,” atau “Kucingnya tidur.” Kata yang langsung terhubung dengan objek dan tindakan lebih mudah diberi makna dalam konteks.

3. Variasikan komentar dan pertanyaan

Jangan menjadikan setiap halaman sesi kuis. Seimbangkan pertanyaan dengan komentar. Setelah berkata, “Anaknya pakai payung,” Bunda bisa bertanya, “Kenapa ya?” Untuk anak yang belum banyak bicara, pertanyaan pilihan seperti “Payungnya merah atau biru?” dapat terasa lebih mudah.

4. Tunggu sebelum membantu menjawab

Setelah bertanya, beri jeda beberapa detik. Respons anak dapat berupa tatapan, menunjuk, gestur, suara, satu kata, atau kalimat. Dengan menunggu, Bunda memberi ruang bagi anak untuk memproses bahasa dan mengambil giliran komunikasi.

Baca Juga  7 Aktivitas Membaca yang Mengajak Anak Menjawab, Meniru, dan Bercerita
Share this Article
Reading: Bukan Sekadar Membacakan: 7 Cara Membuat Buku Jadi Ruang Percakapan Anak