Anak Sudah Paham tapi Belum Banyak Bicara? Kenali Bahasa Reseptif dan Ekspresif

Syafaria Hadyandari
7 Min Read
ibu berinteraksi dengan anak untuk melatih bahasa reseptif dan ekspresif
Ibu berinteraksi dengan anak untuk melatih bahasa reseptif dan ekspresif

HALLOBUNDA.COBunda mungkin pernah melihat si Kecil langsung mengambil sepatu ketika diminta, “Ambil sepatunya, ya,” tetapi saat ditanya ingin makan apa, ia hanya menunjuk atau menjawab dengan satu kata. Situasi ini menunjukkan bahwa kemampuan memahami dan mengungkapkan bahasa tidak selalu berkembang dengan bentuk yang sama. Dalam perkembangan komunikasi, keduanya dikenal sebagai bahasa reseptif dan ekspresif anak. Memahami perbedaannya membantu orang tua memberi stimulasi yang lebih sesuai, tanpa buru-buru memberi label.

Apa Itu Bahasa Reseptif dan Ekspresif?

American Speech-Language-Hearing Association (ASHA) menjelaskan bahwa bahasa mencakup kemampuan reseptif, seperti mendengarkan atau membaca untuk memahami, dan kemampuan ekspresif, seperti berbicara, menulis, atau menggunakan tanda untuk menyampaikan pesan. Pada anak kecil, bahasa reseptif terlihat ketika ia memahami kata, mengenali nama benda, mengikuti arahan, atau menangkap makna pertanyaan. Bahasa ekspresif terlihat saat anak menggunakan suara, gestur, kata, dan kalimat untuk menyampaikan kebutuhan, ide, atau perasaan.

Baca Juga  Alami Separation Anxiety, Anak Tasya Kamila Sempat Tak Mau Sekolah, Begini 3 Cara Atasinya

Mengapa Kemampuan Memahami dan Berbicara Bisa Terlihat Berbeda?

Memahami bahasa dan menghasilkan bahasa merupakan proses yang saling berhubungan, tetapi tuntutannya berbeda. Anak dapat mengenali arti kata sebelum mampu mengambil kata tersebut dari ingatan dan mengucapkannya dengan jelas. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak menilai kemampuan bahasa hanya dari jumlah kata yang diucapkan. Perhatikan juga apakah anak merespons namanya, melihat benda yang disebut, mengikuti instruksi sesuai usia, menunjuk untuk berkomunikasi, dan mencoba menyampaikan maksud.

1. Latih bahasa reseptif melalui rutinitas

Gunakan kalimat sederhana saat aktivitas berlangsung: “Taruh sendok di meja,” “Ambil handuk,” atau “Sepatunya masuk rak.” Instruksi yang terkait konteks membantu anak menghubungkan kata dengan tindakan dan benda nyata. Beri waktu sebelum mengulang atau membantu.

Baca Juga  Jangan Anggap Sepele! Abses Retrofaring Bisa Berbahaya Bagi si Kecil, Ini 10 Gejalanya

2. Beri pilihan untuk memancing bahasa ekspresif

Daripada langsung memberikan sesuatu, tawarkan dua pilihan: “Mau pisang atau apel?” Anak boleh menjawab dengan menunjuk, suara, atau kata. Respons tersebut dapat Bunda perluas: “Apel. Adik mau apel.” Tujuannya membangun komunikasi, bukan memaksa pengucapan sempurna.

3. Gunakan buku bergambar untuk dua kemampuan sekaligus

Saat membaca, minta anak mencari gambar: “Mana kucing?” untuk melatih pemahaman. Lalu beri kesempatan mengungkapkan: “Kucingnya sedang apa?” Sesuaikan pertanyaan dengan kemampuan anak. Jika ia belum menjawab verbal, menerima respons berupa tatapan atau menunjuk tetap menjaga interaksi positif.

4. Perluas ucapan anak, bukan mengoreksi terus-menerus

Jika anak berkata, “Mobil,” Bunda dapat menanggapi, “Iya, mobil merah jalan.” Jika ia berkata, “Mau susu,” balas, “Adik mau minum susu.” Model bahasa yang sedikit lebih panjang memberi contoh struktur tanpa membuat anak merasa sedang diuji.

Baca Juga  Anak Bisa Stunting Jika Terus Terpapar Polusi Udara, Begini 5 Cara Pencegahannya
Share this Article
Reading: Anak Sudah Paham tapi Belum Banyak Bicara? Kenali Bahasa Reseptif dan Ekspresif