HALLOBUNDA.CO – “Bunda, kenapa bayangan ikut bergerak?” Pertanyaan seperti ini kadang muncul saat orang tua sedang terburu-buru. Godaannya adalah menjawab secepat mungkin, bahkan berkata, “Sudah, nanti saja.” Padahal, di balik satu pertanyaan sederhana, anak sedang mencoba menghubungkan apa yang ia lihat dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya.
Menumbuhkan rasa ingin tahu anak bukan berarti membuat si Kecil harus terus berbicara atau selalu punya pertanyaan. Ada anak yang spontan bertanya, ada pula yang lebih suka mengamati lebih lama sebelum mencoba. UNICEF menekankan bahwa anak secara alami ingin mengeksplorasi lingkungan, sementara pengalaman bermain dan eksplorasi memberi kesempatan untuk mencoba, membandingkan, bertanya, dan belajar dari hasilnya.
Rasa penasaran juga beririsan dengan keterampilan kognitif lain. Ketika anak memperhatikan perubahan, membuat dugaan, memilih cara mencoba, lalu mengingat hasilnya, ia menggunakan perhatian, memori kerja, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah. Keterampilan fungsi eksekutif tersebut berkembang melalui pengalaman dan latihan, bukan muncul dalam bentuk matang sejak lahir.
Mengapa Rasa Ingin Tahu Penting untuk Perkembangan Kognitif?
Rasa ingin tahu memberi alasan bagi anak untuk terlibat aktif dalam proses belajar. Alih-alih hanya menerima informasi, anak mencari tahu apa yang belum ia pahami. UNICEF Innocenti merangkum temuan bahwa curiosity dan inquiry berkaitan dengan proses bertanya serta pencarian informasi yang dapat memperluas pengetahuan. Karena itu, tugas orang tua bukan memberikan sebanyak mungkin fakta, melainkan menyediakan lingkungan yang aman untuk mencari tahu.
Yang juga penting: jangan membandingkan jumlah pertanyaan antar-anak. Anak yang pendiam belum tentu tidak penasaran. Ia mungkin menunjukkan minat dengan menatap lama, mengulang percobaan, membongkar-pasang, mengumpulkan benda, atau meminta kembali ke topik yang sama.
7 Cara Menyalakan Rasa Ingin Tahu Anak
1. Jangan selalu buru-buru memberi jawaban
Saat anak bertanya “Kenapa es mencair?”, beri jeda. Balik dengan pertanyaan, “Menurut kamu apa yang membuatnya berubah?” Tujuannya bukan menguji benar-salah, tetapi memberi ruang untuk membuat dugaan.
2. Ikuti minat yang sedang kuat
Jika anak sedang tertarik pada kendaraan, serangga, dinosaurus, memasak, atau hujan, gunakan minat itu sebagai pintu belajar. Cari buku, amati benda nyata, gambar, atau ajak anak menceritakan apa yang sudah ia ketahui.
3. Gunakan pertanyaan terbuka
Ganti pertanyaan yang hanya membutuhkan “ya/tidak” dengan “Apa yang kamu perhatikan?”, “Menurutmu apa yang akan terjadi?”, atau “Ada cara lain tidak?” Pertanyaan terbuka mengundang anak menjelaskan proses berpikirnya.
4. Jadikan benda sehari-hari sebagai bahan eksperimen
Gelas plastik, air, sendok, daun, batu, kardus, senter, atau es batu sudah cukup. Anak dapat membandingkan berat-ringan, mengapung-tenggelam, terang-gelap, atau perubahan wujud. Selalu sesuaikan bahan dengan usia dan awasi benda kecil, panas, listrik, serta bahan yang berisiko tertelan.