HALLOBUNDA.CO – Bunda meminta, “Ambil sepatu lalu taruh dekat pintu,” dan si Kecil melakukannya dengan tepat. Namun ketika ditanya ingin makan apa, ia hanya menunjuk atau menjawab dengan satu kata. Situasi seperti ini sering membuat orang tua bertanya: anak sebenarnya sudah memahami bahasa atau belum? Untuk menjawabnya, penting mengenal dua kemampuan yang bekerja bersama dalam komunikasi, yaitu bahasa reseptif dan bahasa ekspresif.
Bahasa reseptif berkaitan dengan kemampuan memahami pesan yang diterima anak. Bentuknya dapat terlihat saat anak mengenali nama benda, memahami pertanyaan, mengikuti instruksi, atau menangkap makna cerita sederhana. Sementara itu, bahasa ekspresif berkaitan dengan cara anak menyampaikan pesan melalui kata, kalimat, gestur, ekspresi, atau bentuk komunikasi lain. Dalam praktik klinis, ASHA memasukkan pemahaman kosakata, instruksi, kalimat, dan cerita sebagai keterampilan reseptif; sedangkan penggunaan kata, penyusunan kalimat, dan fungsi komunikasi termasuk keterampilan ekspresif.
Bahasa Reseptif dan Ekspresif: Apa Bedanya dalam Keseharian?
Perbedaannya lebih mudah terlihat lewat situasi sehari-hari. Ketika Bunda bertanya, “Mana kucingnya?” lalu anak menunjuk gambar kucing, ia sedang menunjukkan pemahaman bahasa. Ketika anak berkata, “Kucing tidur,” ia menggunakan bahasa untuk mengekspresikan informasi. Satu aktivitas bahkan dapat melibatkan keduanya secara berurutan: anak mendengar pertanyaan, memahami maksudnya, memilih respons, lalu mengungkapkan jawaban.
Kemampuan memahami dan mengungkapkan bahasa tidak perlu dibandingkan seperti perlombaan. Profil setiap anak dapat berbeda, dan satu kemampuan yang tampak lebih kuat tidak otomatis menjelaskan penyebab kemampuan lain yang masih berkembang. Karena itu, orang tua sebaiknya mengamati pola komunikasi secara utuh dan sesuai usia.
5 Cara Mengamati dan Menstimulasi Keduanya di Rumah
1. Mulai dari instruksi sederhana dalam rutinitas
Saat berpakaian, makan, atau membereskan mainan, gunakan instruksi singkat seperti “Ambil sendok” atau “Taruh mobil di kotak”. Beri waktu anak memproses sebelum mengulang. Ini memberi kesempatan Bunda mengamati pemahaman tanpa mengubah kegiatan menjadi tes.
2. Beri pilihan yang perlu dijawab
Daripada langsung memberikan camilan, tanyakan, “Mau pisang atau roti?” Anak dapat merespons dengan menunjuk, gestur, bunyi, atau kata. Bunda kemudian dapat memodelkan bentuk yang sedikit lebih lengkap: “Oh, mau pisang.”
3. Gunakan buku untuk latihan dua arah
Tunjuk gambar dan tanyakan, “Mana yang sedang tidur?” untuk melatih pemahaman. Setelah itu, beri pertanyaan sederhana seperti, “Kucingnya sedang apa?” agar anak punya kesempatan mengungkapkan jawaban. Sesuaikan pertanyaan dengan kemampuan anak agar sesi tetap menyenangkan.

Subscribe to my channel