HALLOBUNDA.CO – “Ambil sepatu, ya,” dan si Kecil langsung mengambilnya. Namun saat Bunda bertanya, “Mau sepatu yang mana?” ia justru menunjuk atau diam. Situasi seperti ini sering membuat orang tua bingung: anak tampaknya memahami ucapan, tetapi belum banyak membalas dengan kata-kata. Apakah ini hal yang wajar?
Memahami instruksi dan mengungkapkan keinginan adalah kemampuan yang saling berhubungan, tetapi tidak sama. Anak bisa menunjukkan pemahaman lewat tindakan sebelum mampu menyusun respons verbal. Meski begitu, kemampuan mengikuti perintah saja belum cukup untuk memastikan seluruh perkembangan bahasanya sesuai usia. Penting untuk melihat usia, bahasa yang digunakan di rumah, gestur, kosakata spontan, pendengaran, serta perubahan dari waktu ke waktu.
Apa Bedanya Memahami Instruksi dan Menjawab dengan Kata?
Bahasa reseptif membantu anak memahami kata, kalimat, dan pesan. Bahasa ekspresif memungkinkan anak menyampaikan pikiran melalui kata, kalimat, gestur, atau bentuk komunikasi lain. Seorang anak mungkin memahami perintah yang sering didengar karena konteksnya sangat familiar, tetapi masih kesulitan mencari kata untuk menjawab pertanyaan baru. Karena itu, observasi sebaiknya dilakukan dalam berbagai situasi, bukan hanya ketika anak menjalankan rutinitas yang sudah dihafal.
6 Situasi Sehari-hari yang Bisa Bunda Amati
Enam situasi berikut bukan tes atau alat diagnosis. Gunakan sebagai cara mengenali pola komunikasi anak dalam suasana santai.
1. Ketika anak menginginkan sesuatu
Perhatikan bagaimana anak meminta air, makanan, atau mainan. Apakah ia menunjuk, menarik tangan Bunda, membuat bunyi, menggunakan kata, atau menggabungkan beberapa cara? Respons nonverbal tetap merupakan komunikasi. Bunda bisa menanggapi maksudnya sambil memberi contoh singkat: “Air, ya. Bunda ambil air.” Hindari menahan kebutuhan anak hanya untuk memaksanya mengucapkan kata.
2. Ketika diberi dua pilihan
Coba tawarkan “Mau pisang atau roti?” sambil menunjukkan keduanya. Anak mungkin menjawab dengan tatapan, menunjuk, atau menyebut kata. Beri jeda beberapa detik agar ia punya kesempatan merespons. Jika ia menunjuk roti, Bunda dapat mencontohkan “Mau roti.” Tujuannya memperluas kesempatan berkomunikasi, bukan menuntut jawaban sempurna.
3. Ketika bermain bersama
Amati apakah anak mengajak orang lain melihat mainannya, meniru tindakan, bergantian, atau menunjukkan benda yang menarik. Komunikasi saat bermain tidak selalu berupa kalimat. Respons seperti menunjukkan mobil lalu menatap Bunda adalah kesempatan untuk membangun percakapan: “Wah, mobil merah! Mobilnya jalan.”

Subscribe to my channel