HALLOBUNDA.CO – Menjelang tidur, rumah mulai tenang dan aktivitas anak perlahan berkurang. Justru di momen inilah Bunda bisa menghadirkan percakapan sederhana yang terasa dekat. Tidak perlu kartu belajar atau sesi latihan khusus. Mengobrol, membaca, dan mendengarkan cerita anak dapat memberi kesempatan untuk mengenal kata baru, memahami pertanyaan, serta menyampaikan pikiran dan perasaan.
Menurut ASHA, rutinitas sebelum tidur untuk bahasa anak paling bermanfaat ketika dilakukan secara responsif: orang tua memperhatikan minat anak, memberi waktu untuk menjawab, lalu menanggapi ucapannya. Tujuannya bukan mengejar jumlah kata dalam semalam, melainkan membangun interaksi yang nyaman dan berulang.
Mengapa Rutinitas Malam Bisa Menjadi Momen Belajar Bahasa?
Bahasa berkembang melalui interaksi sehari-hari. Saat anak menunjuk gambar, bertanya, atau menceritakan kejadian, orang tua dapat memperluas ucapannya. Contohnya, ketika anak berkata “kucing tidur”, Bunda dapat menanggapi, “Iya, kucing putih itu tidur di sofa.” Anak mendengar susunan kalimat yang sedikit lebih kaya tanpa harus diminta menghafal.
Rutinitas yang dapat diprediksi juga membantu anak mengetahui urutan kegiatan. Namun stimulasi bahasa tidak perlu membuat waktu tidur mundur. Pilih aktivitas singkat sesuai usia, energi, dan kebutuhan tidur si Kecil.
7 Rutinitas Sebelum Tidur untuk Mendukung Bahasa Anak
1. Ceritakan kembali satu kejadian menyenangkan
Saat berganti pakaian tidur, ajak anak memilih satu pengalaman hari itu: “Tadi yang paling seru apa?” Jika anak masih kecil, bantu dengan pilihan konkret seperti “Main bola atau menggambar?” Dengarkan jawabannya tanpa buru-buru membetulkan setiap kalimat.
2. Membaca buku bergambar secara interaktif
Pilih buku dengan gambar jelas dan cerita singkat. Tidak harus membaca setiap kalimat sampai selesai. Bunda bisa menunjuk gambar, menyebut nama benda, dan bertanya “Menurutmu, kelincinya mau ke mana?” Ikuti respons anak, termasuk ketika ia lebih tertarik pada satu halaman saja.
3. Bermain tiga kata baru dari benda sekitar
Pilih kata yang muncul alami, misalnya “selimut”, “lembut”, dan “hangat”. Gunakan dalam kalimat yang bermakna: “Selimut ini lembut dan hangat.” Untuk anak yang lebih besar, ajak mencari kata yang memiliki makna mirip atau berlawanan. Tidak perlu kuis panjang.
4. Mengajak anak menyebutkan perasaannya
Tanyakan, “Hari ini kamu senang, kesal, atau capek?” Lalu beri contoh, “Bunda senang karena tadi kita bermain bersama.” Menamai emosi membantu anak mengenal kosakata perasaan sekaligus belajar menghubungkan kata dengan pengalaman.

Subscribe to my channel