HALLOBUNDA.CO – Mendengar si Kecil mengucapkan kata pertamanya menjadi momen yang membahagiakan. Setelah “mama”, “ayah”, “mau”, atau nama benda favorit mulai terdengar, pertanyaan berikutnya biasanya muncul: bagaimana membantu kosakatanya terus bertambah? Kabar baiknya, memperkaya kosakata tidak harus dilakukan melalui kartu hafalan atau sesi belajar formal. Anak justru banyak belajar kata dari percakapan yang berulang, bermakna, dan terjadi saat bermain maupun menjalani rutinitas bersama.
Perkembangan bahasa berlangsung bertahap dan setiap anak memiliki pola yang unik. NIDCD menjelaskan bahwa pada rentang 7 bulan hingga 1 tahun, anak mulai memahami kata untuk benda umum, menggunakan gestur, meniru bunyi, dan pada sekitar ulang tahun pertama dapat memiliki satu atau dua kata. Pada usia 1–2 tahun, anak umumnya memperoleh kata baru secara teratur dan mulai menggabungkan dua kata. ASHA juga menekankan bahwa milestone merupakan panduan perkembangan, bukan alat diagnosis.
Kata Pertama Bukan Sekadar Bunyi yang Terdengar Mirip
Dalam perkembangan komunikasi, kata menjadi bermakna ketika anak menggunakannya secara konsisten untuk merujuk pada orang, benda, tindakan, atau maksud tertentu. Pengucapan belum harus sempurna. Anak dapat menyederhanakan bunyi, tetapi orang tua tetap dapat mengenali maksud yang sama dari konteks penggunaannya.
Kosakata juga tidak hanya berarti nama benda. Anak membutuhkan kata untuk tindakan seperti “buka” dan “jatuh”, kata sosial seperti “hai” dan “dadah”, kata sifat seperti “panas” atau “besar”, serta kata yang membantu meminta, menolak, bertanya, dan berbagi perhatian. Semakin beragam fungsi kata yang didengar dalam konteks nyata, semakin kaya pengalaman bahasa anak.
7 Cara Memperkaya Kosakata Anak Secara Alami
1. Beri nama pada benda yang sedang diperhatikan anak
Ikuti fokus anak. Saat ia memegang sendok, katakan “sendok”; ketika melihat kucing, katakan “kucing jalan”. Menghubungkan kata dengan objek atau kejadian yang sedang menarik perhatiannya membuat makna lebih mudah dipahami.
2. Tambahkan satu tingkat dari ucapan anak
Jika anak mengatakan “bola”, orang tua dapat menjawab “bola merah” atau “bola jatuh”. Jika ia berkata “mau susu”, perluas menjadi “mau susu lagi”. Teknik ini memberi model bahasa yang sedikit lebih kaya tanpa memaksa anak mengulang.
3. Gunakan kata kerja dalam rutinitas
Kosakata sering didominasi nama benda. Tambahkan kata kerja ketika mandi, makan, berpakaian, atau bermain: “tuang air”, “potong pisang”, “pakai baju”, “dorong mobil”, dan “buka pintu”. Kata kerja membantu anak kelak menyusun pesan yang lebih fleksibel.
4. Berikan pilihan nyata
Tawarkan dua pilihan seperti “mau apel atau pisang?” atau “baca buku mobil atau hewan?”. Bila anak menunjuk, sebutkan pilihannya dan beri jeda agar ia memiliki kesempatan mencoba mengucapkan kata, tanpa menahan kebutuhan secara berlebihan.

Subscribe to my channel