HALLOBUNDA.CO – Menjelang tidur, suasana rumah biasanya mulai lebih tenang. Bagi orang tua, beberapa menit ini bisa menjadi kesempatan untuk membangun kedekatan sekaligus mendukung perkembangan bicara dan bahasa anak. Tidak perlu sesi belajar formal. Percakapan ringan tentang kejadian hari ini, membaca buku, atau membuat cerita bersama sudah dapat memberi anak banyak kesempatan untuk mendengar, memahami, dan mencoba menggunakan kata.
Rutinitas yang konsisten juga membantu anak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. HealthyChildren, situs parenting dari American Academy of Pediatrics, merekomendasikan membaca buku sebagai bagian dari rutinitas malam dan menyebut membaca bersama dapat mendukung perkembangan bahasa serta keterampilan sosial-emosional. Sementara itu, ASHA menganjurkan orang tua untuk banyak berbicara, mendengarkan respons anak, bercerita, membaca, serta memperluas apa yang anak katakan.
Mengapa Waktu Sebelum Tidur Cocok untuk Stimulasi Bahasa?
Stimulasi bahasa paling bermakna ketika terjadi dalam interaksi dua arah. Menjelang tidur, distraksi dapat dikurangi dan orang tua bisa memberi perhatian lebih penuh. Anak tidak hanya mendengar kata, tetapi juga belajar bergiliran berbicara, menjawab pertanyaan, mengingat pengalaman, dan menghubungkan kata dengan peristiwa nyata.
Namun tujuan utamanya tetap membuat transisi menuju tidur terasa tenang. Hindari menjadikan rutinitas malam sebagai sesi latihan yang menuntut anak menjawab dengan benar. Jika anak sudah mengantuk atau tidak ingin banyak bicara, cukup beri model bahasa melalui cerita singkat atau membaca buku.
5 Teknik Obrolan Malam yang Membantu Anak Belajar Bahasa
1. Mulai dari satu kejadian yang benar-benar dialami
Alih-alih bertanya, “Hari ini ngapain saja?”, pilih pertanyaan yang lebih konkret: “Tadi waktu di taman, kamu main apa?” atau “Siapa yang duduk di sebelahmu saat makan?” Pertanyaan spesifik membantu anak mengambil kembali informasi dari pengalaman hari itu. Untuk anak yang masih sedikit bicara, orang tua bisa memberi pilihan: “Tadi main bola atau perosotan?”
2. Tambahkan satu tingkat dari kalimat anak
Ketika anak berkata, “Kucing tidur,” orang tua dapat merespons, “Iya, kucing putih itu tidur di kursi.” Teknik memperluas ujaran seperti ini memberi model kosakata dan struktur kalimat baru tanpa mengatakan bahwa jawaban anak salah. ASHA juga menyarankan orang tua mengulang ucapan anak lalu menambahkan informasi.
3. Gunakan pertanyaan yang membuka percakapan
Setelah anak cukup nyaman menjawab pertanyaan sederhana, gunakan pertanyaan seperti “Bagian mana yang paling kamu suka?” atau “Menurut kamu, kenapa adik tadi menangis?” Pertanyaan terbuka memberi ruang untuk jawaban lebih panjang. Tetap sesuaikan dengan usia dan kemampuan bahasa anak; terlalu banyak pertanyaan berturut-turut dapat terasa seperti interogasi.

Subscribe to my channel