HALLOBUNDA.CO – Pernah meminta Si Kecil memakai sepatu berkali-kali, tetapi jawabannya tetap “nanti”? Saat waktu terasa mepet, suara Bunda mungkin ikut meninggi. Situasi seperti ini umum terjadi dalam keluarga. Kabar baiknya, membangun kerja sama tidak harus dimulai dari bentakan.
Parenting tanpa drama bukan berarti anak selalu tenang, orang tua tak pernah kesal, atau semua permintaan langsung dituruti. Pendekatan ini mengajak Bunda mengelola respons, memahami kebutuhan di balik perilaku, dan tetap menetapkan batas yang jelas. Berikut tujuh kalimat yang bisa dicoba saat suasana mulai panas.
Apa Itu Parenting Tanpa Drama?
Menurut UNICEF, parenting tanpa drama adalah cara pengasuhan yang mengutamakan hubungan hangat, komunikasi singkat, serta batas yang konsisten ketika menghadapi konflik sehari-hari. Tujuannya bukan menghapus emosi negatif, melainkan membantu anak belajar menghadapinya tanpa ancaman, hinaan, atau bentakan sebagai strategi utama.
1. “Bunda tahu kamu masih ingin bermain. Lima menit lagi kita bersiap.”
Anak yang sedang asyik bermain sering kesulitan berpindah kegiatan. Akui keinginannya, lalu berikan pemberitahuan transisi yang realistis. Gunakan penanda waktu yang mudah dipahami, seperti satu lagu pendek atau timer visual. Ketika waktunya tiba, bantu anak menjalankan langkah pertama, bukan mengulang perintah dari jauh.
2. “Kamu boleh marah, tetapi tidak boleh memukul.”
Emosi boleh muncul; perilaku yang melukai tetap perlu dihentikan. Ucapkan batas dengan nada tegas dan kalimat pendek. Bila ada risiko seseorang terluka, prioritaskan keselamatan dan jauhkan benda berbahaya. Setelah anak lebih tenang, bantu ia menyebutkan perasaan dan memilih cara lain, misalnya berkata “aku kesal” atau meminta ruang.
3. “Mau pakai sepatu merah atau biru?”
Pilihan terbatas membantu anak merasakan kendali tanpa mengubah keputusan utama. Kuncinya, kedua pilihan harus benar-benar dapat diterima. Jangan menawarkan pilihan palsu saat hal tersebut bukan pilihan, misalnya memakai sabuk pengaman. Untuk kebutuhan keselamatan, jelaskan batasnya secara langsung.
4. “Bunda akan dengarkan setelah kita sama-sama lebih tenang.”
Saat dua pihak sudah kewalahan, debat panjang jarang membantu. Ambil jeda singkat bila anak berada dalam kondisi aman dan tetap didampingi sesuai kebutuhannya. Tarik napas, turunkan volume suara, lalu kembali untuk mendengar. Jeda bukan hukuman diam atau mengabaikan anak; tujuannya agar percakapan dapat berlangsung lebih baik.

Subscribe to my channel