1. Ajari si Kecil Dalam Memberi Label Perasaan
Anak-anak yang tidak mengerti atau tahu bagaimana mengkomunikasikan emosi mereka secara efektif lebih cenderung impulsif.
Mengatasi hal tersebut, ajari si Kecil untuk mengenali perasaannya sehingga dapat memberi tahu bagaimana perasaannya dengan benar, dari pada harus menunjukkannya secara efektif.
Mulailah dengan mengajarkan nama-nama emosi, seperti marah, sedih, bersemangat, terkejut, khawatir, atau ketakutan.
2. Ajarkan Keterampilan Memecahkan Masalah
Meskipun solusi brainstorming terdengar sederhana, pemecah masalah dapat menjadi salah satu teknik kontrol impuls yang paling efektif.
Ajari si Kecil bahwa ada banyak cara untuk memecahkan masalah dan akan sangat membantunya untuk mengevaluasi beberapa perilaku sebelum beraksi.
Misalnya, ketika si Kecil marah lantaran mainannya sedang dimainkan oleh kakaknya, Bunda dapat memberikan beberapa pilihan lain.
Apakah anak dapat mencoba bermain dengan mainan lain, atau melakukan kegiatan lain seperti bersepeda atau menonton televisi, sambil menunggu kakaknya selesai bermain.
3. Buatlah Aturan dan Konsekuensi yang Jelas
Ketika Bunda dapat memberikan struktur dan harapan yang berada dalam aturan yang jelas, ini dapat membantu mengatur kontrol impuls anak.
Karena sang buah hati tahu perilaku apa yang telah diinginkan darinya.
Dikutip dari situs CDC, anak-anak cenderung berkembang dengan rutinitas dan struktur yang ditawarkan dalam peraturan keluarga.
Beri tahu anak apa harapan Bunda, sebelum si Kecil memasuki situasi baru. Misalnya, anak perlu memahami menggunakan suara pelan dalam ruangan di perpustakaan, rumah sakit, atau berjalan di toko kelontong.
Jika anak telah mengetahui apa saja yang diinginkan, maka akan lebih kecil kemungkinannya untuk berperilaku buruk.
Tak hanya itu saja, jelaskan juga konsekuensi negatif jika sang buah hati melanggar aturan. Sehingga ia dapat membuat keputusan yang lebih baik tentang perilakunya.***