Seperti yang kita ketahui bahwa anak disabilitas intelektual memiliki IQ yang rendah, tergantung tingkat disabilitasnya.
Oleh karena itu perlu untuk melatih kognitifnya dengan treatment khusus serta dilakukan secara berulang.
Dalam melatih kognitif ini ditekankan agar anak dapat memahami sebab akibat. Yaitu dengan memberikan contoh-contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Contohnya jika haus maka apa yang harus diambil apakah air atau buah–buahan, jika lapar maka apa yang harus diambil apakah jus atau makanan.
Kemudian juga mengajarkan risiko yang dapat terjadi jika anak melakukan sesuatu. Seperti jika anak makan dan minum sembarangan bisa batuk, dan sebagainya.
Ini terdengar sepele, namun anak disabilitas intelektual sangat membutuhkan pemahaman seperti ini.
Selain sebab akibat, anak juga perlu diajarkan untuk mengidentifikasi benda dan istilah-istilah di sekitarnya. Seperti menjelaskan mana yang disebut ayah, mana bunda, mana kucing dan seterusnya.
Ketiga, aspek komunikasi, anak-anak dengan disabilitas intelektual dan down syndrome perlu dilatih dalam berkomunikasi supaya dapat terhubung dengan apa yang kita instruksikan.
Misalnya ketika dipanggil namanya menyahut, mengajarkan cara meminta, menyampaikan apa yang sedang dirasakan dan sebagainya.
Keempat aspek interaksi, cara sederhana untuk melatihnya dalam berinteraksi dengan orang lain adalah dengan kontak mata.
Hal ini supaya anak dapat melakukan kontak mata dengan orang yang berbicara dengan dia dan dapat fokus terhadap apa yang disampaikan.
Kelima yaitu aspek sosialisasi, supaya anak dapat berteman dan bermain dengan anak seusianya, dan bermain dengan mengetahui aturan.
Dengan menstimulasi dari aspek sosialisasi ini diharapkan anak dapat meminta saat tertarik dengan mainan anak lain dan tidak merebutnya.
Anak juga dapat tertawa di waktu yang tepat, misalnya saat melihat hal yang lucu, bukan saat temannya jatuh atau terluka.
Keenam yaitu aspek kontrol emosi, anak dengan disabilitas intelektual pada banyak kasus memiliki kesulitan untuk mengungkapkan apa yang dia rasa, apa yang dia pikirkan, dan apa yang dia mau.
Ditambah lagi mereka juga biasanya akan mengalami speech delay atau terlambat bicara. Sehingga ia tidak dapat mengungkapkan apa yang dia inginkan dan apa yang ada di pikiran dan hatinya.
Akhirnya mereka akan mudah tantrum dan kesulitan untuk mengendalikan emosinya. Maka dari itu perlu untuk mengajarkan regulasi emosi pada anak-anak disabilitas intelektual.
Meskipun sebenarnya tidak hanya anak dengan kondisi khusus saja yang perlu untuk diajarkan untuk meregulasi emosinya, karena pada dasarnya setiap anak perlu untuk diajarkan meregulasi emosinya.
Terakhir, aspek ketujuh yaitu tentang kepatuhan anak, bagaimana anak dapat bersikap yang baik di rumah, di tempat umum, atau dengan temannya.
Hal tersebut merupakan aspek-aspek perilaku yang memang harus diperhatikan terutama dengan anak disabilitas intelektual.***