“Mengerikan sekali, tidurnya malah tambah terganggu,” ujar Magoffin sang suami Pranaiya.
Bukannya beristirahat dengan tenang, namun sang istrinya yang telah dinikahinya itu selama empat tahun malah mengalami insomnia yang parah.
Pranaiya menjadi lebih khawatir dan semakin sulit melakukan apapun, padahal dulu dirinya seorang ibu yang aktif melakukan aktivitas.
Wanita yang berusia 37 tahun itu terus berjuang untuk bangun dari tempat tidur dan berjuang melawan pikiran-pikiran gelap, yang akhirnya mengambil alih.
Pada tanggal 1 September 2021, kurang dari enam bulan setelah melahirkan, dan setelah satu bulan didiagnosis menderita depresi postpartum, Pranaiya mengakhiri hidupnya dan nyawa putranya.
Jika Bunda belum mengetahui depresi postpartum, kondisi tersebut merupakan keadaan ketika seorang ibu merasakan rasa sedih, bersalah, dan depresi dalam jangka waktu yang panjang.
Kelahiran bayi dapat memberikan dorongan perasaan dan emosi yang kuat, mulai dari kesenangan, kebahagiaan, hingga ketakutan.
Lonjakan dari berbagai macam emosi ini yang berperan dalam terjadi depresi postpartum.
Maka dari itu, jangan dianggap sepele hal seperti ini lantaran dapat mengancam nyawa seorang perempuan.
4 Cara Mengatasi Depresi Postpartum

Dikutip dari situs Mayo Clinic, melahirkan seorang anak tentunya menjadi kebahagiaan tersendiri, namun di satu sisi Bunda juga bisa mengalami psikologis tertentu.
Salah satu gangguan psikologis pasca melahirkan yang umum terjadi adalah depresi postpartum.
Berikut beberapa cara mengatasi depresi pasca melahirkan, bisa oleh Bunda dipraktekan di rumah, di antaranya: