2. Jika Emosi, Segera Tenangkan Diri
Usahakan agar tidak berteriak atau membentak ketika anak melakukan ulah yang menjengkelkan. Luapan emosi negatif itu bisa membuat hati anak terluka dan teringat hingga ia dewasa.
Daripada berteriak dan membentak, sebaiknya orang tua mencoba menenangkan diri dengan menarik napas dalam. Tahan selama beberapa detik dan embuskan. Ulangi cara ini hingga emosi bena-benar stabil.
Cara kedua, orang tua bisa pergi menjauh dari anak. Ke kamar, misalnya. Saat sudah merasa tenang, orang tua bisa membicarakan dan memberikan arahan pada anak agar tidak mengulangi kesalahannya.
3. Coba Berhitung
Cara mengelola emosi ini bisa dilakukan dengan berhitung dari 1 hingga 10. Lanjutkan hitungan jika masih merasakan emosi yang bergejolak. Cara ini efektif untuk menurunkan detak jantung yang meningkat.
Sebagai contoh, “Tolong rapikan mainanmu yang berantakan. Ibu hitung sampai 10, ya. Kalau tidak rapi juga, mainan ini akan ibu sita. Satu.. Dua.. Tiga..”
Langkah ini efektif diterapkan pada beberapa anak. Namun, jika anak tidak memahami peringatan yang orang tua berikan, coba beri peringatan dengan sikap tegas, tanpa meneriaki atau membentaknya.
4. Pantang Memukul
Memukul tidak menyelesaikan masalah. Sebab, dalam diri anak bisa muncul rasa trauma yang sulit disembuhkan. Cara ini juga mengajarkan anak bahwa menyakiti fisik orang lain adalah perbuatan yang wajar.
Anak yang biasa dipukul bisa tumbuh jadi orang yang egois ketika beranjak dewasa. Ini juga menimbulkan mindset dalam dirinya bahwa cara memecahkan masalah bisa dilakukan dengan menggunakan kekerasan.
5. Kendalikan Cara Bicara
Emosi yang diluapkan secara negatif akan membuat hati dan pikiran semakin tidak keruan. Coba bicara dengan tenang. Langkah ini bisa menenangkan perasaan dan emosi yang sedang naik.
Contohnya, “Nak, tolong jangan lagi membanting barang-barang saat marah, ya. Ibu jadi sedih kalau kamu begitu. Apa kamu tega melihat ibu sedih?”
6. Jangan Mengancam Anak
Orang tua yang terbawa emosi bisa saja mengancam anak dengan kalimat yang menyeramkan. Misalnya, “Ibu akan potong tangan kamu jika memberantakki rumah lagi!” atau “Ibu akan potong lidahmu jika berbicara kasar lagi!”
Ancaman yang tidak masuk akal bisa menghilangkan kepercayaan anak pada orang tua. Bahkan, ancaman ini bisa disepelekan dan tak berarti sehingga tidak menimbulkan efek jera.
Sebaiknya, hindari ancaman yang tak masuk akal dan berbau kekerasan. Sebab, ini juga bisa jadi contoh buat anak. Ia bisa saja, lho, berpikir bahwa memotong tangan orang lain diperbolehkan saat sedang marah.***