Studi lain yang dilakukan oleh University of Rochester juga menemukan hal yang sama.
Sering melihat pertengkaran dan perilaku destruktif orang tua, seperti kekerasan verbal atau kekerasan fisik, dapat menyebabkan gangguan emosi pada anak.
Gangguan emosi ini sangat beragam. Anak menjadi mudah khawatir, tidak berdaya, dan tidak percaya diri.
Tak hanya itu, mereka juga menjadi mudah marah dan lebih agresif.
Bahkan, anak dapat mengalami berbagai masalah kesehatan, seperti gangguan tidur, nyeri kepala, nyeri perut, dan rentan sakit.
Melihat orang tua bertengkar terus-menerus tentunya akan memantik stres.
Stres yang dialami anak dapat menyebabkannya sulit berkonsentrasi untuk menerima pelajaran di sekolah, sehingga performa akademis pun menurun.
Akibat stres ini, hubungan sosial anak dengan orang lain juga bisa terganggu. Begitu pula dengan hubungan anak dengan saudara kandung.
Misalnya, anak menjadi sangat ikut campur dengan kakak atau adiknya, overprotektif satu sama lain, atau bahkan menjadi saling menjauh.
Jika berpikir bahwa bayi tidak akan mengalami dampak yang sama seperti anak yang sudah besar, maka Bunda salah.
Suatu penelitian menyebutkan bahwa anak berusia 6 bulan pun sudah bisa merasakan stres yang dialami oleh orang tuanya.
Pada penelitian jangka panjang tersebut, anak balita yang sering melihat orang tuanya bertengkar diobservasi perilakunya.
Ketika masuk taman kanak-kanak, anak cenderung menjadi takut untuk sendiri, kurang mandiri, dan tidak percaya diri.