Rumus sederhana menyusun satu porsi MPASI
Gunakan lima komponen berikut: karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur atau buah, serta lemak tambahan. Tidak semua bahan harus berjumlah sama. Protein dan sumber energi perlu cukup, sementara sayur diberikan dalam jumlah wajar agar tidak membuat menu terlalu encer atau terlalu rendah energi.
Contoh: nasi lembek + ayam cincang + tempe + wortel + minyak. Alternatif: kentang + ikan + tahu + labu + santan. Untuk awal MPASI, makanan dapat dilumatkan kental. Naikkan tekstur secara bertahap menjadi cincang halus, cincang kasar, dan makanan keluarga yang dimodifikasi sesuai kemampuan bayi.

Contoh menu MPASI tinggi protein selama 7 hari
Hari 1: bubur nasi, telur, tempe, bayam, dan minyak.
Hari 2: kentang lumat, ayam, tahu, wortel, dan santan.
Hari 3: nasi tim, ikan kembung, tempe, labu, dan minyak.
Hari 4: oatmeal gurih, telur, ayam, brokoli, dan keju pasteurisasi secukupnya.
Hari 5: nasi lembek, daging sapi, tahu, buncis, dan minyak.
Hari 6: ubi, ikan, tempe, tomat, dan santan.
Hari 7: nasi tim, ayam, telur, labu siam, dan minyak.
Menu ini merupakan inspirasi, bukan resep klinis. Sesuaikan jumlah, tekstur, dan frekuensi dengan usia serta kemampuan bayi. Bahan boleh diganti berdasarkan ketersediaan lokal. Perkenalkan alergen umum dengan cara aman; pada bayi dengan eksim berat atau riwayat alergi, diskusikan dengan dokter.
Frekuensi dan tekstur berdasarkan usia
WHO merekomendasikan MPASI dimulai sekitar usia 6 bulan. Secara umum, bayi usia 6-8 bulan mendapat makanan pendamping 2-3 kali sehari, kemudian meningkat menjadi 3-4 kali pada usia 9-23 bulan, dengan camilan bergizi sesuai kebutuhan pada usia yang lebih besar.
Tekstur tidak boleh terlalu encer karena bayi akan menerima volume air yang besar tetapi energi sedikit. Mulai dari makanan lumat kental, lalu naikkan secara bertahap. Keterlambatan tekstur dapat membuat bayi lebih sulit belajar mengunyah. Selalu dudukkan bayi tegak, awasi selama makan, dan hindari bahan yang berisiko tersedak.
Cara mengenalkan telur, ikan, dan bahan alergi
Berikan makanan baru ketika bayi sehat dan orang tua dapat mengamati reaksi. Mulai dengan jumlah kecil dalam bentuk matang, lalu tingkatkan bila diterima. Reaksi ringan dapat berupa ruam atau muntah, sedangkan kesulitan bernapas, bengkak pada wajah, lemas mendadak, atau reaksi berat memerlukan pertolongan medis segera.
Tidak perlu memperkenalkan terlalu banyak bahan baru sekaligus pada hari yang sama ketika sedang menguji toleransi. Setelah bahan diterima, pertahankan dalam rotasi menu. Jangan memberikan madu sebelum usia 12 bulan dan hindari telur, daging, ikan, atau makanan laut yang setengah matang.