Obrolan Sebelum Tidur: 5 Cara Membantu Anak Bercerita tentang Harinya

Syafaria Hadyandari
8 Min Read
Ibu dan anak mengobrol sebelum tidur untuk melatih kemampuan bercerita
Ibu dan anak mengobrol sebelum tidur untuk melatih kemampuan bercerita

HALLOBUNDA.CO – Menjelang tidur, suasana rumah biasanya mulai lebih tenang. Setelah aktivitas sepanjang hari selesai, beberapa menit sebelum lampu dimatikan bisa menjadi kesempatan untuk mengajak si Kecil mengingat apa yang ia alami, memilih kata, menyusun cerita sederhana, dan mendengarkan respons orang tua. Jadi, melatih kemampuan bicara tidak selalu membutuhkan sesi khusus. Percakapan hangat yang dilakukan secara konsisten juga dapat menjadi stimulasi bahasa yang bermakna.

American Academy of Pediatrics melalui HealthyChildren menganjurkan membaca bersama sebagai bagian dari rutinitas malam dan menyebut membaca nyaring dapat mendukung perkembangan bahasa serta keterampilan sosial-emosional. Sementara itu, milestone CDC pada usia 3 tahun antara lain mencakup percakapan dua arah setidaknya dua kali pertukaran, mengajukan pertanyaan “siapa”, “apa”, “di mana”, atau “mengapa”, serta menyebutkan aksi yang terjadi pada gambar atau buku. Milestone bukan alat diagnosis, tetapi dapat membantu orang tua mengamati perkembangan komunikasi anak.

Baca Juga  Rutinitas Ngobrol 10 Menit: Cara Sederhana Memperkaya Bahasa Anak

Mengapa Obrolan Sebelum Tidur Bisa Menjadi Stimulasi Bahasa?

Percakapan tentang pengalaman sehari-hari meminta anak melakukan beberapa proses sekaligus: mengingat kejadian, memilih informasi yang ingin disampaikan, mencari kata yang sesuai, menyusun urutan, lalu menunggu respons lawan bicara. Aktivitas sederhana ini dapat mendukung bahasa ekspresif sekaligus kemampuan percakapan dua arah. Yang terpenting, suasananya tetap santai. Tujuannya bukan menguji anak, melainkan membuka ruang agar ia ingin bercerita.

5 Cara Mengajak Anak Bercerita Sebelum Tidur

1. Mulai dari satu kejadian yang paling mudah diingat

Pertanyaan “Hari ini ngapain aja?” bisa terasa terlalu luas, terutama untuk anak yang masih belajar bercerita. Coba mulai dari satu konteks konkret: “Tadi waktu di taman, kamu main apa?” atau “Siapa yang duduk dekat kamu saat makan?” Petunjuk yang spesifik membantu anak mengambil kembali informasi dari pengalamannya tanpa merasa sedang diwawancarai.

Baca Juga  Ucapan Anak Belum Jelas? Coba 7 Permainan Bunyi yang Menyenangkan

2. Gunakan pola siapa–di mana–apa yang terjadi

Setelah anak menyebut satu kejadian, bantu ia menambahkan detail secara bertahap. Bunda dapat bertanya, “Sama siapa?”, “Mainnya di mana?”, lalu “Terus apa yang terjadi?” Pola sederhana ini membantu anak memahami bahwa sebuah cerita memiliki tokoh, tempat, dan kejadian. Tidak perlu menanyakan semuanya sekaligus; tunggu jawaban anak dan ikuti arah ceritanya.

3. Perluas kalimat anak tanpa mengoreksi berlebihan

Jika anak berkata, “Aku main bola,” Bunda bisa merespons, “Oh, tadi kamu main bola merah sama Kakak di halaman, ya.” Teknik memperluas ucapan seperti ini memberi model kalimat yang lebih kaya tanpa membuat anak merasa jawabannya salah. Bila pengucapannya belum sempurna, tetap tanggapi maknanya terlebih dahulu lalu berikan model kata yang benar secara natural.

Baca Juga  Anak Paham Saat Diajak Bicara tetapi Jarang Menjawab? Kenali 7 Langkah Stimulasi
Share this Article
Reading: Obrolan Sebelum Tidur: 5 Cara Membantu Anak Bercerita tentang Harinya