Infertilitas juga mempengaruhi jutaan pasangan di seluruh dunia namun relatif sedikit penelitian yang dilakukan mengenai dampak polusi.
Namun, udara yang kotor diketahui bisa meningkatkan risiko aspek produksi lainnya, termasuk juga akan berpengaruh kepada kelahiran yang prematur dan berat badan lahir rendah.
Tingkat umum nitrogen dioksida sama buruknya dengan merokok aktif dalam meningkatkan risiko keguguran dan partikel polusi telah ditemukan di sisi janin dari plasenta.
Dikutip dari situs Science Direct, didasarkan dari data wawancara dan kuesioner dari 18.571 pasangan yang menjadi bagian dari survei kesuburan wanita.
Di Tiongkok, perempuan diharuskan untuk mendaftar ke pihak yang berwenang sebelum mencoba untuk hamil.
Sehingga para peneliti dapat meminta informasi dari semua perempuan yang sedang melakukan program hamil.
Tingkat polusi rata-rata untuk pasangan di Tiongkok adalah 57ug/m3, peneliti menemukan bahwa wanita yang terpapar partikel kecil 10 mikrogram akan memiliki risiko infertilitas.
Tak hanya pada wanita saja, pria juga akan berisiko terjadinya penurunan kualitas sperma.
Paparan terhadap polutan udara seperti partikel kecil PM2.5 dan senyawa kimia beracun dapat merusak sel-sel reproduksi.
Akan mengganggu hormon reproduksi, dan mengurangi kualitas sperma pada pria.
Berdasarkan data dari World Air Quality (06/07/2023), kualitas udara di Jakarta mencapai 155 AQI (Index Quality Udara).
Maka dari itu, polusi udara tidak bisa dianggap sepele, lantaran akan menyebabkan ketidaksuburan, apalagi Bunda dan Ayah sedang melakukan program hamil.
Bunda dan Ayah juga ikut berperan untuk mengurangi polusi udara, apalagi jika tinggal dikota-kota besar seperti Jakarta.