2. Jaga Komunikasi Tetap Lancar
Setiap pasangan suami istri perlu untuk menjaga komunikasi agar tetap lancar. Karena komunikasi merupakan salah satu kunci agar hubungan rumah tangga tetap harmonis. Bagaimanapun, karena telah lama hidup bersama maka akan sangat rentan terlibat konflik. Maka dari itu untuk menghindari adanya konflik-konflik yang tidak diinginkan maka mengupayakan agar komunikasi tetap terjaga.

Menjaga komunikasi dengan pasangan terkadang menjadi hal yang dilupakan. Pasangan suami istri yang sudah lama tinggal serumah bisa saja lupa jika komunikasi mereka ternyata tidak lancar. Mereka hanya berpikir sudah biasa untuk melakukan ini itu pasti pasangan sudah mengetahuinya, padahal itu belum tentu.
Jadi bagi setiap pasangan, sebaiknya selalu komunikasikan dengan pasangan jika ingin melakukan sesuatu meskipun itu sudah biasa dilakukan. Selain itu, untuk uneg-uneg yang dirasakannya tentang pasangannya, sebaiknya segera dikomunikasikan baik-baik.
Jangan pernah meremehkan uneg-uneg karena jika tidak disampaikan dan hanya terpendam dapat menimbulkan konflik yang lebih besar. Satu hal yang perlu diingat, masalah yang dipendam sendiri tidak akan dapat terselesaikan sampai kapan pun. Kalaupun si pemendam uneg-uneg merasa tidak perlu untuk disampaikan karena hal biasa, sebenarnya ia hanya sedang memenuhi perasaannya dengan emosi negatif.
Emosi negatif yang menumpuk tidak baik untuk dirinya sendiri. Karena menurut teori psikologi emosi yang dipendam bisa berpengaruh negatif terhadap kondisi fisik maupun mental, serta tidak jarang memberikan dampak buruk pada hubungannya dengan orang lain, baik dengan pasangan maupun orang lain.
3. Gunakan Isyarat
Daripada meninggikan intonasi bicara hingga berteriak saat tidak sepakat dengan pasangan lebih baik memasang ekspresi wajah yang menandakan ketidaksepakatan namun dengan pembawaan yang tenang. Terlebih ketika di depan anak, sebaiknya memberikan isyarat kepada pasangan bahwa Ayah atau Bunda tidak suka atau tidak sepakat dengan pernyataan pasangan.

Jika ada salah satu pihak yang ingin memulai pertengkaran maka satu pihak yang masih ‘mindful’ dengan keadaan sekitar di mana ada anak di sekitar mereka, dapat mengingatkan pasangannya agar menunda untuk meluapkan emosinya. Bisa mengingatkan dengan menggunakan isyarat tertentu agar suami maupun istri yang ingin marah bisa meredamnya terlebih dahulu.
Bagi pihak yang sedang dalam keadaan marah bisa menepi dulu sejenak untuk bisa meredam emosinya, jika ia kesulitan untuk meredam emosi langsung di depan pasangannya. Dengan menggunakan isyarat tersebut maka Ayah dan Bunda dapat mencegah terjadinya pertengkaran yang heboh yang dapat mempengaruhi mental anak.
Sekali lagi, untuk dapat mengurangi ‘kebiasaan’ memulai pertengkaran di depan anak memang butuh latihan. Sehingga Ayah dan Bunda perlu untuk terus berlatih dan bersabar ketika menghadapi situasi tersebut.