4. Pola Asuh Pengabaian
Jenis gaya pengasuhan ini merupakan penyempurnaan teori yang diusulkan oleh Maccoby dan Martin pada tahun 1980-an, yang menyempurnakan tiga jenis gaya pengasuhan yang digagas oleh Baumrind sebelumnya. Dalam menerapkan gaya pengasuhan seperti ini orang tua cenderung tidak mempedulikan anak-anaknya.

Tanda-tanda orang tua yang menerapkan gaya pengasuhan ini yaitu mereka yang sedikit berkomunikasi dengan anak-anaknya, tidak responsif, dan juga tidak terlalu menuntut anak-anaknya, dalam artian tidak memberikan aturan apapun. Biasanya orang tua seperti ini hanya memenuhi kebutuhan dasar anak-anaknya secara lahir saja.
Mereka hanya memastikan anak-anaknya memiliki tempat tinggal, pakaian dan juga memberi anak-anaknya makan. Mereka tidak pernah mengajarkan bagaimana harus bersikap, memecahkan masalah dan bertanggung jawab atau apapun. Dalam kasus ekstrem bahkan mereka tidak memenuhi semua kebutuhan anak-anaknya.
Gaya pengasuhan seperti ini menempati peringkat terendah di semua domain kehidupan. Anak-anak ini cenderung kurang kontrol diri, memiliki harga diri yang rendah, dan kurang kompeten dibandingkan teman sebayanya.
Faktor Lain
Kendati pola asuh sangat mempengaruhi karakter anak, terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi pembentukan karakter anak. Bahkan, meskipun telah menerapkan pola asuh demokratis sekalipun anak tidak serta merta menjadi anak baik tanpa cacat.
Dalam banyak kasus, hasil anak yang diharapkan tidak terwujud; orang tua dengan gaya otoritatif memiliki anak yang menantang atau terlibat dalam perilaku nakal, sedangkan orang tua dengan gaya permisif memiliki anak yang percaya diri dan sukses secara akademis. Maka dapat disimpulkan terdapat faktor lain yang juga erat kaitannya dalam membentuk karakter anak.
Douglas Bernstein dalam bukunya Essentials of Psychology menyatakan bahwa tidak ada satupun gaya pengasuhan terbaik secara universal. Faktor budaya dan lingkungan juga turut andil dalam pembentukan karakter tersebut. Menurut dia, pengasuhan otoritatif, yang secara konsisten dikaitkan dengan hasil positif dalam keluarga Amerika-Eropa, tidak terkait dengan kinerja sekolah yang lebih baik di antara anak-anak Afrika-Amerika atau Asia-Amerika.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pola asuh demokratis memang sesuatu yang harus diterapkan, namun dalam penerapannya juga perlu untuk mempertimbangkan faktor penting lainnya. Termasuk budaya, temperamen anak, persepsi anak tentang perlakuan orang tua, dan pengaruh sosial juga memainkan peran penting dalam perilaku anak.
Maka dari itu sangat penting untuk memperhatikan karakter dasar anak dan bagaimana lingkungannya agar anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan yang diharapkan orang tuanya. Selalu mengevaluasi pola asuhnya, mencermati setiap permasalahan anak, memperhatikan lingkungan di mana anak tumbuh dan bermain serta memilihkan sekolah yang tepat bagi anak-anaknya juga perlu untuk dilakukan agar faktor-faktor lain tersebut dapat menunjang dalam mengembangkan anak dengan baik.