“Menjaga kesehatan mental diri sendiri dan pasangan menjadi salah satu kunci agar anak tetap sehat secara mental dan itu juga dapat memengaruhi tumbuh kembang anak. Sebab, banyak ahli telah mengonfirmasi bahwa anak yang bahagia dapat tumbuh dan berkembang lebih optimal ketimbang anak yang tidak terpenuhi kebutuhan emosinya,” tuturnya.
Selain kesehatan mental, menurut Crystal, rumah tangga yang baik adalah yang kondisi keuangannya stabil. Kendati itu bukan menjadi patokan utama tingkat kebahagiaan sebuah keluarga, namun saat kondisi keuangan tidak stabil akan memunculkan banyak konflik dan pertengkaran hingga membuat retaknya sebuah rumah tangga.
Untuk belajar menjadi orang tua yang lebih baik, terdapat buku “Agar Anda Siap Jadi Ayah dan Bunda” dan buku “Pemenuhan Apik untuk Tumbuh Kembang Anak Terbaik” yang bisa dibaca. Kedua buku ini disampaikan hal yang harus dipersiapkan untuk menjadi orang tua mulai dari fisik hingga mental, demi tumbuh kembang anak yang baik.
Dalam buku ini dijelaskan bagaimana cara agar ayah dan bunda mampu mengoptimalisasi tumbuh kembang anak tersebut. Termasuk juga diberikan tips agar tetap seru saat mengajak anak-anak bermain di rumah. Ini sangat baik untuk perkembangan kognitif dan kemampuan motorik anak, serta dapat memperkuat bonding antara orangtua dan anak-anak, meskipun orang tua tidak 24 jam penuh bersama anak karena harus bekerja.
Terkadang, rumah tangga akan menghadapi kondisi yang sangat tidak ideal dan kedua pasangan suami istri telah menemui jalan buntu dalam mencari solusi agar tetap bisa mempertahankan rumah tangganya. Sehingga perceraian menjadi jalan terbaik bagi keduanya, karena itu justru merupakan solusi terbaik juga bagi anak-anak.
“Jika sudah demikian, maka perlu ada komitmen pengasuhan pasca-perceraian dari mantan suami istri tersebut agar anak tidak semakin terluka. Karena tidak ada yang namanya mantan anak atau mantan orangtua. Dan kewajiban pengasuhan itu tetap melekat pada masing-masing orangtua meskipun keduanya telah berpisah,” tutup Crystal Liestia.