Anak Sudah Banyak Kata tapi Sulit Bercerita? 7 Cara Melatih Bahasa Ekspresif

Syafaria Hadyandari
7 Min Read
Ibu melatih bahasa ekspresif anak melalui percakapan dan kegiatan bercerita
Ibu melatih bahasa ekspresif anak melalui percakapan dan kegiatan bercerita

HALLOBUNDA.CO Ada anak yang sudah mengenal banyak kata, tetapi masih kesulitan ketika diminta menceritakan kejadian di sekolah, menjelaskan apa yang diinginkan, atau menyusun kalimat yang lebih panjang. Kondisi ini tidak selalu berarti anak “tidak bisa bicara”. Dalam perkembangan komunikasi, anak juga perlu belajar bahasa ekspresif: kemampuan menggunakan kata, kalimat, dan cerita untuk menyampaikan pikiran, kebutuhan, perasaan, serta pengalaman. Kabar baiknya, latihan bahasa ekspresif anak dapat dilakukan lewat percakapan sehari-hari tanpa membuat rumah terasa seperti ruang kelas.

Apa Itu Bahasa Ekspresif pada Anak?

Bahasa ekspresif adalah kemampuan anak menyampaikan pesan melalui kata dan kalimat. Keterampilan ini berkembang bersama bahasa reseptif, yaitu kemampuan memahami pesan yang didengar. Dalam praktik sehari-hari, bahasa ekspresif terlihat ketika anak menamai benda, meminta bantuan, menjawab pertanyaan, menjelaskan alasan, sampai menceritakan kembali sebuah pengalaman. Interaksi dua arah yang responsif penting karena anak bukan hanya mendengar bahasa, tetapi mendapat kesempatan untuk merespons, menunggu giliran, dan membangun pesannya sendiri.

Baca Juga  Stop Berikan si Kecil Minum Teh Tiap Pagi! Begini 7 Bahayanya yang Sering Disepelekan

Mengapa Anak Bisa Banyak Kata tetapi Masih Sulit Bercerita?

Kosakata adalah salah satu bahan dasar komunikasi, tetapi bercerita membutuhkan beberapa keterampilan sekaligus: memilih kata, menyusun urutan kejadian, membentuk kalimat, mempertahankan topik, dan memahami apa yang perlu diketahui lawan bicara. Karena itu, jangan buru-buru membandingkan panjang cerita anak dengan teman seusianya. Lebih bermanfaat jika Bunda memberi model kalimat yang jelas, waktu untuk berpikir, dan kesempatan berbicara tanpa terlalu sering memotong atau mengoreksi.

1. Mulai dari cerita tentang kegiatan yang baru terjadi

Gunakan pengalaman yang masih segar, misalnya setelah bermain, makan, atau pulang sekolah. Alih-alih bertanya “Tadi ngapain?”, coba pecah menjadi petunjuk sederhana: “Tadi kamu main sama siapa?” lalu “Setelah itu kalian main apa?” Pertanyaan bertahap membantu anak menemukan titik awal untuk bercerita.

Baca Juga  Stimulasi Artikulasi Sederhana: 7 Aktivitas untuk Membantu Ucapan Anak Lebih Jelas

2. Perluas kalimat anak tanpa memaksanya mengulang

Jika anak berkata, “Aku main bola,” Bunda bisa merespons, “Iya, tadi kamu main bola merah sama Kakak di halaman.” Teknik memperluas ucapan memberi contoh struktur kalimat yang lebih kaya sambil tetap menghargai pesan anak. Anak tidak harus selalu diminta mengulang versi orang tua.

3. Gunakan urutan “awal–lalu–akhir”

Saat menceritakan kejadian, bantu anak mengenali urutan sederhana. Bunda dapat bertanya, “Awalnya apa?”, “Lalu apa yang terjadi?”, dan “Akhirnya bagaimana?” Gunakan foto kegiatan, tiga gambar berurutan, atau benda nyata sebagai petunjuk jika anak masih kesulitan mengingat.

4. Beri jeda agar anak sempat menyusun jawaban

Setelah bertanya, tahan keinginan untuk langsung memberi jawaban. Beberapa detik jeda memberi anak waktu memproses pertanyaan dan merencanakan kata-katanya. Harvard Center on the Developing Child menekankan pentingnya interaksi bolak-balik serta memberi anak kesempatan merespons dalam pola “serve and return”.

Baca Juga  Berikan Stimulasi Bicara Sejak Bayi, Perhatikan 2 Cara Ini

Share this Article
Reading: Anak Sudah Banyak Kata tapi Sulit Bercerita? 7 Cara Melatih Bahasa Ekspresif