Dari Menunjuk hingga Bercerita: Cara Membantu Kosakata Anak Bertambah Setiap Hari

Syafaria Hadyandari
10 Min Read
Ibu mengajak anak berbicara untuk membantu menambah kosakata anak
Ibu mengajak anak berbicara untuk membantu menambah kosakata anak

HALLOBUNDA.CO – Sebelum mampu berkata “mau susu” atau bercerita tentang mainannya, anak sudah berkomunikasi melalui tatapan, ekspresi, suara, dan gestur. Menunjuk benda yang diinginkan, melambaikan tangan, atau menoleh saat namanya dipanggil merupakan bagian dari fondasi komunikasi. Seiring perkembangan, bunyi mulai memiliki makna, kata pertama muncul, lalu kosakata anak perlahan bertambah. Pada fase ini, Bunda tidak perlu mengubah rumah menjadi ruang kelas. Interaksi hangat dalam kegiatan sehari-hari justru menyediakan banyak kesempatan untuk membantu anak mengenal dan menggunakan kata baru.

Kata Pertama Bukan Titik Awal Komunikasi

Kemampuan bahasa dibangun jauh sebelum anak mengucapkan kata yang dapat dikenali. Ia belajar dari suara orang terdekat, pola percakapan, ekspresi wajah, gestur, dan respons yang diterimanya. Karena itu, perkembangan kata pertama sebaiknya dilihat sebagai bagian dari rangkaian komunikasi, bukan sebagai satu-satunya tolok ukur.

Baca Juga  Anak Bisa Bicara tapi Tidak Mau Bicara? Kenali Penyebab dan Cara Memberi Stimulasi Bahasa Tanpa Memaksa

Menurut National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD), kemampuan bicara dan bahasa berkembang paling intensif pada tiga tahun pertama kehidupan, ketika otak berkembang dan matang dengan cepat. Anak juga memiliki variasi kecepatan perkembangan. Yang penting diamati adalah kemajuan komunikasi dari waktu ke waktu, termasuk kemampuan memahami bahasa, menggunakan gestur, menghasilkan suara, dan kemudian menggunakan kata.

Bagaimana Kosakata Anak Bertambah?

Anak tidak hanya belajar kata dengan mendengar kata itu berulang kali. Ia perlu menghubungkan bunyi dengan orang, benda, tindakan, atau pengalaman. Ketika Bunda berkata, “Airnya dingin,” saat anak menyentuh air, kata “air” dan “dingin” hadir bersama konteks yang nyata. Hubungan semacam ini membuat bahasa lebih bermakna.

Baca Juga  Bermain Tebak Gambar: 7 Cara Menyenangkan Memperkaya Kosakata Anak

Kosakata juga berkembang melalui interaksi dua arah. Saat anak menunjuk kucing dan Bunda merespons, “Iya, itu kucing. Kucingnya sedang tidur,” Bunda mengikuti fokus perhatian anak sekaligus menambahkan model bahasa. Respons sederhana tersebut dapat memperluas informasi tanpa menuntut anak mengulang setiap kata.

Kata yang Dipahami dan Kata yang Diucapkan Tidak Selalu Sama

Kosakata reseptif adalah kata yang dipahami anak, sedangkan kosakata ekspresif adalah kata yang dapat ia gunakan untuk menyampaikan pesan. Pada perkembangan awal, anak dapat memahami lebih banyak kata daripada yang mampu ia ucapkan. Misalnya, ia bisa mengambil sepatu ketika diminta meskipun belum dapat mengatakan “sepatu” dengan jelas.

Perbedaan ini penting agar orang tua tidak hanya menghitung jumlah kata yang terdengar. Perhatikan juga apakah anak memahami kata familiar, merespons komunikasi, menggunakan gestur, mencoba meniru suara, dan berinisiatif berinteraksi.

Baca Juga  Anak Mengerti Instruksi tapi Jarang Menjawab? Ini yang Perlu Bunda Amati
Share this Article
Reading: Dari Menunjuk hingga Bercerita: Cara Membantu Kosakata Anak Bertambah Setiap Hari