HALLOBUNDA.CO – Anak baru sembuh dari batuk pilek, beberapa minggu kemudian sakit lagi. Situasi seperti ini mudah membuat Bunda bertanya, “Kok daya tahan tubuhnya turun terus, ya?” Kekhawatiran tersebut wajar, tetapi istilah “imun turun” sering dipakai terlalu sederhana. Sistem imun anak bekerja bersama banyak faktor: usia, paparan kuman, status gizi, tidur, imunisasi, kebersihan, lingkungan, dan kondisi kesehatan tertentu.
Karena itu, menjaga daya tahan tubuh anak bukan soal mencari satu vitamin paling ampuh. WHO menjelaskan bahwa pola makan sehat mendukung sistem imun, tetapi tidak ada satu makanan atau suplemen yang dapat mencegah atau menyembuhkan semua infeksi. Pendekatan yang lebih masuk akal adalah membangun kebiasaan sehat secara konsisten.
Anak Mudah Sakit, Apakah Imunnya Pasti Lemah?
Belum tentu. Anak, terutama yang mulai sekolah atau daycare, bertemu lebih banyak orang dan lebih banyak virus. Sistem imunnya juga masih belajar mengenali berbagai kuman. Karena itu, frekuensi batuk pilek dapat meningkat tanpa berarti anak memiliki gangguan imun.
Yang lebih penting adalah melihat gambaran utuh: apakah anak tumbuh sesuai jalur pertumbuhannya, tetap aktif di antara episode sakit, pulih dengan baik, serta tidak mengalami infeksi berat atau tidak biasa. Bila Bunda merasa pola sakitnya berbeda, berat, atau mengganggu pertumbuhan, evaluasi dokter lebih bermanfaat daripada mencoba banyak suplemen sendiri.
7 Kebiasaan untuk Mendukung Daya Tahan Tubuh Anak
1. Prioritaskan makanan yang beragam, bukan satu “superfood”
WHO menempatkan kecukupan, keseimbangan, moderasi, dan keberagaman sebagai prinsip dasar pola makan sehat. Untuk anak, sajikan sumber karbohidrat, protein, sayur, buah, dan lemak sesuai kebutuhan usia. Variasi membantu tubuh memperoleh vitamin, mineral, protein, dan komponen pangan lain yang dibutuhkan untuk pertumbuhan serta fungsi normal sistem imun.
2. Pastikan protein hadir dalam menu harian
Protein dibutuhkan untuk pertumbuhan dan berbagai fungsi tubuh. Sumbernya dapat berupa telur, ikan, ayam, daging, susu atau produk olahannya sesuai toleransi, serta kacang-kacangan dan produk kedelai. Tidak perlu mengejar satu bahan tertentu; yang penting adalah kecukupan dan variasi dalam pola makan.
3. Jangan lupakan buah dan sayur
Buah dan sayur menyediakan vitamin, mineral, serat, dan beragam senyawa bioaktif. WHO menganjurkan pola makan yang kaya bahan pangan utuh dan beragam. Bila anak masih sulit makan sayur, mulai dari porsi kecil, sajikan berulang tanpa memaksa, dan beri contoh melalui kebiasaan makan keluarga.